“Proses belajarnya harus melampaui teks,” begitu prinsipnya.
Artinya, yang penting adalah makna di balik deretan kata itu. Diskusi yang hidup, analisis kasus, atau belajar lewat masalah nyata bisa jadi cara ampuh untuk menumbuhkan nalar kritis sejak dini. Dengan begitu, membaca bukan lagi aktivitas pasif, melainkan sebuah petualangan pikiran.
Di luar sekolah, literasi macam ini juga vital. Masyarakat yang kritis biasanya tak gampang terprovokasi. Mereka lebih terbuka, lebih matang dalam mengambil keputusan. Lama-kelamaan, kebiasaan ini bisa membentuk budaya berpikir yang sehat fondasi penting untuk kehidupan demokratis.
Pada akhirnya, literasi bukan cuma soal membaca kata-kata. Ia adalah tentang memahami realitas lewat pikiran yang tajam. Di tengah banjir informasi seperti sekarang, kemampuan inilah yang menjadi tameng. Agar kita tidak sekadar jadi konsumen yang menelan semua, tapi individu yang sadar, yang merenung, dan bertanggung jawab. Sebab, membaca tanpa berpikir mungkin membuat kita tahu banyak hal. Tapi memahami maknanya? Itu cerita lain.
Artikel Terkait
Komisi III DPR Kritik Penanganan Kasus Korupsi Videografer Rp30 Juta
Prabowo Blusukan ke Bantaran Rel Senen, Mengingatkan Tradisi Penyamaran Soekarno
Kepatuhan LHKPN DPR Terendah, Hanya 55,14% yang Lapor
Gubernur Malut Kunjungi Makassar untuk Pelajari Strategi Peningkatan PAD dan Pengendalian Inflasi