Delapan Dapur Gizi di Tulungagung Ditutup Sementara Diduga Langgar SOP dan Terkait Keracunan

- Senin, 30 Maret 2026 | 05:15 WIB
Delapan Dapur Gizi di Tulungagung Ditutup Sementara Diduga Langgar SOP dan Terkait Keracunan

Delapan dapur yang menyediakan layanan gizi di Tulungagung terpaksa dihentikan sementara operasinya. Penyebabnya, menurut Badan Gizi Nasional (BGN) setempat, karena tempat-tempat itu dinilai tidak memenuhi standar prosedur yang telah ditetapkan.

Koordinator BGN Wilayah Tulungagung, Sebrina Mahardika, mengonfirmasi hal ini pada Minggu lalu. Ia menyebut, langkah ini diambil sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh. Ada beberapa dugaan pelanggaran yang jadi perhatian, mulai dari ketidaksiapan fasilitas hingga yang lebih serius: kasus keracunan makanan.

“Saat ini terdapat 116 dapur SPPG di Tulungagung, namun delapan di antaranya kami suspend sementara karena tidak memenuhi standar,” katanya.

Rinciannya begini. Satu dapur ditutup karena tak punya pengawas gizi. Tiga lainnya bermasalah dengan fasilitas yang dianggap belum layak. Sementara empat dapur sisanya, nah ini yang cukup meresahkan, sedang diselidiki terkait laporan keracunan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Untuk kasus yang terakhir ini, sampel makanannya sudah dites di lab. Hasilnya? Sudah dikirim ke kantor pusat BGN untuk dianalisis lebih jauh.

“Hasil uji laboratorium sudah kami kirim ke pusat, namun masih dalam tahap analisis sehingga belum bisa kami sampaikan,” ujar Sebrina.

Nah, buat kedelapan dapur yang kena suspend itu, ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Mereka diwajibkan melakukan evaluasi total. Mulai dari mengecek ulang penerapan SOP sampai memperbaiki sarana prasarana sesuai arahan Dinas Kesehatan. BGN tampaknya tak mau main-main.

Di sisi lain, momentum evaluasi ini juga dipakai untuk meninjau ulang kualitas distribusi MBG selama Ramadhan kemarin. Banyak keluhan dari masyarakat yang sampai ke telinga mereka.

“Kejadian sebelumnya menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas menu, sarana prasarana, dan sumber daya manusia ke depan,” tegas Sebrina.

Ke depan, rencananya BGN punya dua fasa. Tahun 2025 nanti, fokusnya adalah menambah jumlah dapur SPPG. Baru setelah itu, di 2026, upaya akan dialihkan untuk meningkatkan kualitas layanan secara keseluruhan. Sebuah langkah berjenih, setelah ditemukan titik lemah dalam sistem yang ada.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags