Gunung Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah kembali meluncurkan awan panas guguran pada Senin siang, meskipun jarak luncur material vulkanik itu tidak dapat terpantau karena puncak gunung tertutup kabut. Fenomena tersebut terekam oleh alat seismograf milik Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) pada pukul 14.09 WIB dengan amplitudo maksimum mencapai 64,04 milimeter dan durasi 88,58 detik.
"Terjadi awan panas guguran di Gunung Merapi pukul 14.09 WIB dengan amplitudo maksimum 64,04 mm dan durasi 88,58 detik. Visual berkabut," demikian keterangan resmi BPPTKG.
Karena kabut yang menyelimuti puncak, arah maupun jarak luncur awan panas guguran belum dapat dipastikan melalui pengamatan visual. Meskipun demikian, BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di kawasan rawan bencana serta di sepanjang alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi. Warga juga diminta untuk tetap mematuhi seluruh rekomendasi resmi yang telah dikeluarkan oleh otoritas vulkanologi.
Sebelumnya, berdasarkan laporan aktivitas Gunung Merapi pada periode pengamatan pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, kegempaan masih didominasi oleh gempa guguran sebanyak 29 kali. Selain itu, tercatat pula 14 gempa hybrid atau fase banyak serta dua gempa vulkanik dangkal. Secara visual, gunung teramati jelas hingga tertutup kabut level 0-III dengan asap kawah berwarna putih berintensitas sedang hingga tebal yang membumbung setinggi sekitar 25 meter dari puncak.
Selama periode pengamatan yang sama, petugas juga mencatat enam kali guguran lava ke arah barat daya melalui hulu Kali Sat atau Putih dan Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter. Saat ini, status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga.
Sementara itu, BPPTKG menyatakan potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas masih mengancam sektor selatan hingga barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal lima kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal tujuh kilometer. Di sektor tenggara, potensi bahaya berada di Sungai Woro sejauh tiga kilometer dan Sungai Gendol sejauh lima kilometer.
BPPTKG menegaskan bahwa suplai magma ke Gunung Merapi masih berlangsung sehingga berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya. "Masyarakat juga diminta mewaspadai ancaman lahar dan gangguan abu vulkanik terutama saat terjadi hujan di kawasan Merapi," kata BPPTKG.
Artikel Terkait
KPK Tunda Pelimpahan Berkas Korupsi Kuota Haji hingga Ibadah Haji Selesai
Rupiah Menguat 76 Poin ke Rp17.805 di Tengah Ketegangan Selat Hormuz dan Aturan Baru Devisa Ekspor
Hingga Akhir Mei 2026, 13,59 Juta SPT Tahunan Masuk, Karyawan Mendominasi
Penjualan Tiket Kereta Api Tembus 1,3 Juta Selama Libur Panjang Iduladha dan Hari Lahir Pancasila