Jakarta, Kamis sore (26/3) lalu. Presiden Prabowo Subianto tiba-tiba muncul di permukiman padat di bantaran rel kereta api Senen. Tanpa pengawalan ketat, ia berjalan menyusuri lorong-lorong sempit, menyapa warga, dan mendengarkan langsung keluhan mereka. Hanya Sekretaris Kabinet Teddy dan beberapa asisten setia yang terlihat mendampingi. Suasana terasa santai, jauh dari kesan protokoler yang biasanya menyelimuti seorang kepala negara.
Blusukan seperti ini rupanya bukan hal baru. Ada cerita lama yang mirip, bahkan lebih dramatis. Dulu, Presiden pertama kita, Soekarno, juga gemar turun ke lapangan dengan cara serupa. Bedanya, Bung Karno seringkali menyamar.
Suatu hari di kawasan Pasar Senen yang sama, ia menyelinap di antara kerumunan. Saat itu sedang ada pembangunan gudang stasiun. Bung Karno, yang menyamar sebagai orang biasa, mendekati para tukang yang sedang bekerja. Rupanya, ia tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Dari mana diambil batu bata dan bahan konstruksi yang sudah dipancangkan ini?" tanyanya spontan.
Nah, di sinilah masalahnya. Suaranya yang khas itu langsung dikenali. Sebelum si tukang sempat menjawab, teriak seorang perempuan memecah kesunyian. "Itu suara Bapak… Ya… suara Bapak!!!… Hee… orang-orang, ini Bapak…. Bapak….!!!!"
Seketika itu juga, suasana berubah total. Ratusan, lalu ribuan orang berhamburan, mengerubungi sang proklamator. Mereka berebut ingin bersalaman, sekadar menyentuh. Suasana jadi gaduh dan nyaris tak terkendali. Ajudan-ajudannya yang kalang-kabut akhirnya berhasil menyelamatkan Bung Karno, menyibak massa, dan membawanya kabur dengan mobil.
Artikel Terkait
Komisi III DPR Kritik Penanganan Kasus Korupsi Videografer Rp30 Juta
Kepatuhan LHKPN DPR Terendah, Hanya 55,14% yang Lapor
Gubernur Malut Kunjungi Makassar untuk Pelajari Strategi Peningkatan PAD dan Pengendalian Inflasi
Ramadhan Sananta Dihujat Rasis Usai Laga, Gelombang Kecaman Bergulir