Menkeu Yakin IHSG Akan Menguat di Tengah Pelemahan Rupiah dan Ketegangan Global

- Jumat, 22 Mei 2026 | 07:45 WIB
Menkeu Yakin IHSG Akan Menguat di Tengah Pelemahan Rupiah dan Ketegangan Global

Keyakinan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan kembali menguat menjadi sorotan utama publik di kanal ekonomi pada Kamis, 21 Mei 2026. Pernyataan optimistis itu muncul di tengah dinamika pasar yang masih dibayangi berbagai sentimen global dan domestik.

Purbaya menilai, pergerakan IHSG menuju tren positif tinggal menunggu waktu. Ia meyakini para investor akan segera memahami dampak dari pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khusus yang fokus pada sektor ekspor. Langkah strategis ini, menurutnya, menjadi katalis yang mampu memulihkan kepercayaan pasar dalam jangka menengah.

Sementara itu, nilai tukar rupiah masih menunjukkan pelemahan. Pada penutupan perdagangan hari yang sama, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tercatat turun 0,08 persen dan berakhir di level Rp17.667 per dolar AS. Tekanan terhadap mata uang Garuda ini masih berlanjut di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Di sisi lain, harga minyak mentah dunia justru mencatatkan kenaikan. Kontrak minyak jenis Brent berhasil menyentuh angka 105 dolar AS per barel dalam perdagangan awal Asia. Lonjakan ini dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyatakan kesiapan negaranya untuk menyerang Iran apabila negara tersebut tidak menyetujui kesepakatan damai. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi pendorong utama volatilitas harga energi.

Di dalam negeri, langkah konkret pemerintah untuk memperkuat sektor ekspor mulai terlihat. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menggelar rapat bersama sejumlah menteri guna membahas rencana pembentukan Badan Ekspor Nasional. Inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari pidato Presiden Prabowo Subianto dalam sidang paripurna DPR yang membahas Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF).

Optimisme juga datang dari pasar Surat Berharga Negara (SBN). Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, mengungkapkan bahwa minat investor terhadap instrumen utang pemerintah tetap tinggi. Hal ini tercermin dari catatan arus masuk bersih yang mencapai Rp13,4 triliun. Menurut Juda, Surat Utang Negara (SUN) mengalami kelebihan permintaan hingga 2,4 kali, sementara Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) mencatatkan angka 2,8 kali dari total penawaran.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags