Sebanyak 422 aktivis kemanusiaan dari 44 negara yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla (GSF) akhirnya dibebaskan oleh Israel pada Kamis (21/5/2026) setelah ditahan sejak Senin lalu. Mereka menceritakan pengalaman mengerikan selama dalam tahanan, mulai dari dipukuli, ditendang, hingga disetrum oleh tentara Israel. Para aktivis tersebut diterbangkan dari Israel ke Turki sebagai negara fasilitator sebelum akhirnya dipulangkan ke negara asal masing-masing.
Misi kemanusiaan ini berangkat dari pelabuhan Marmaris, Turki, pada 14 Mei lalu dengan menggunakan sekitar 50 kapal. Rombongan yang terdiri dari tenaga medis dan relawan dari berbagai negara itu berniat mengirimkan bantuan kemanusiaan serta logistik medis ke Jalur Gaza. Namun, dalam perjalanan, kapal-kapal mereka dicegat dan para aktivis ditangkap oleh militer Israel.
Dokter asal Australia, Bianca Webb-Pullman, menjadi salah satu saksi yang mengungkap kekerasan yang dialami para aktivis. Ia bergabung dalam misi GSF bersama sejumlah petugas medis Australia lainnya setelah mengetahui kondisi buruk yang menimpa warga Palestina, terutama serangan terhadap fasilitas kesehatan. Menurut Webb-Pullman, kapal yang ditumpanginya bahkan sempat ditembaki oleh pasukan Israel.
“Kami ditahan di sana selama lebih dari satu jam, sementara tentara Israel memutar lagu kebangsaan berulang kali, dan mereka mengatakan, ‘Selamat Datang di Israel’ seraya bersikap brutal terhadap semua orang,” ujarnya kepada Anadolu, Jumat (22/5/2026).
Webb-Pullman menambahkan bahwa para aktivis diseret keluar dari kapal dalam posisi yang menyiksa. “Mereka memukuli, menendang orang-orang, dan ini berlangsung sepanjang proses di dermaga, sangat merendahkan martabat,” katanya. Ia menegaskan bahwa para aktivis bukanlah penjahat, melainkan orang-orang yang datang untuk membantu warga Gaza yang membutuhkan.
“Kami diperlakukan lebih buruk daripada hewan. Maksud saya, hewan, Anda masih akan memberinya air,” ujarnya, menggambarkan bagaimana para tahanan dibiarkan kehausan dan kelaparan. Militer Israel, lanjut dia, juga tidak memberikan perawatan medis meskipun para aktivis terus mengalami kekerasan. “Banyak rekan medis saya mengalami kekerasan parah, dan dipaksa untuk merawat pasien di atas kapal tanpa dukungan medis dari IOF,” katanya.
Sementara itu, aktivis asal Prancis, Adrien Jouan, menunjukkan memar dan luka di tubuhnya sebagai bukti kekerasan yang ia alami. “Ya, mereka memukuli saya, tapi juga banyak di bagian belakang, di kapal pertama, di kapal penjara, ketika mereka menjemput kami. Dan itu semacam penyiksaan,” kata Jouan. Ia memastikan bahwa seluruh aktivis mengalami kekerasan selama berada di atas kapal penjara.
Namun, Jouan menekankan bahwa pengalaman tersebut tidak sebanding dengan penderitaan warga Palestina. “Tetapi tetap saja, itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang mereka lakukan terhadap warga Palestina,” tuturnya. Ia bertekad untuk mengambil tindakan hukum terhadap tentara Israel atas perlakuan yang dialaminya dan para aktivis lainnya. “Tidak normal jika mereka dapat melakukan begitu banyak hal ilegal, sehingga kita harus menuntut mereka,” ujarnya.
Jouan juga mengungkapkan adanya perbedaan perlakuan berdasarkan latar belakang etnis. Menurutnya, tahanan yang berlatar belakang Arab atau yang tidak tampak seperti orang kulit putih Eropa mengalami kekerasan yang jauh lebih berat. “Beberapa orang Arab, atau beberapa yang tampak bukan orang Eropa kulit putih, dipukuli jauh lebih parah daripada saya, dan disiksa lebih parah,” katanya.
Di sisi lain, aktivis Belgia, Arno Meyne, melaporkan bahwa banyak aktivis di kapal menderita patah tulang dan trauma kepala. Bahkan, ia menyebut bahwa beberapa aktivis mengalami pelecehan seksual selama dalam tahanan. Pernyataan-pernyataan ini memperkuat dugaan pelanggaran berat terhadap hukum internasional yang dilakukan oleh militer Israel dalam misi pencegatan kapal kemanusiaan tersebut.
Artikel Terkait
Relawan Kemanusiaan Asal Ponorogo Dibebaskan dari Tahanan Israel, Kelarga Tunggu Kepulangan
Sembilan WNI Korban Penculikan Israel di Perairan Internasional Tiba di Istanbul, Alami Kekerasan Fisik
Kejagung Tetapkan Pengusaha Tambang SDT Tersangka Korupsi IUP Bauksit di Kalbar
Neuer Kembali, Nagelsmann Umumkan Skuad Jerman untuk Piala Dunia 2026