Konsepnya jelas: masjid harus jadi jantung peradaban. Tempat ibadah, tentu. Tapi juga ruang diskusi, tempat menyelesaikan masalah, dari yang remeh-temeh sampai yang berat. Pembangunan yang digagasnya bukan cuma soal fisik bangunan, melainkan juga ekonomi dan ikatan sosial warga sekitar.
Inovasinya banyak. Masjid jadi contoh nyata pengelolaan ideal ala Rasulullah. Kas masjid diupayakan nol, karena uangnya harus diputar untuk umat. Ada jaminan keamanan; barang hilang di masjid, diganti. Gagasan-gagasan segar semacam itulah yang membuat Jogokariyan dikenang.
Kini, sang penggerak itu telah tiada. Telah kembali ke sisi Rabb-nya, pada Senin Pon, 22 Desember 2025.
Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Allāhummaghfirlahu warhamhu, wa‘āfihi wa‘fu ‘anhu.
(Setiya Jogja)
Artikel Terkait
Bripka Septian Gugur Saat Amankan Mudik di Pekalongan
Kemenhub Imbau Pemudik Manfaatkan WFA untuk Hindari Puncak Arus Balik 24 Maret
Anggota DPR Tolak Wacana Sekolah Daring Mulai 2026, Ingatkan Trauma Learning Loss
Paus Leo XIV Desak Penghentian Konflik Timur Tengah, Sebut Penderitaan sebagai Skandal