Dari jendela ruang kerjanya yang menghadap Lapangan Santo Petrus, suara Paus Leo XIV terdengar jelas pada Minggu siang itu. Tanggal 22 Maret 2026, usai doa Angelus, pemimpin umat Katolik dunia itu menyampaikan seruan mendesak. Ia meminta penghentian semua permusuhan, khususnya yang melanda Timur Tengah, tapi juga konflik di berbagai belahan dunia lain.
Dunia, katanya, tak boleh lagi diam. Melihat penderitaan korban yang tak berdaya bukanlah pilihan. Setiap luka yang mereka terima, pada hakikatnya, adalah luka bagi martabat kemanusiaan kita semua. Pesannya tegas dan penuh keprihatinan.
Menurut Paus, ada sesuatu yang sangat salah dengan zaman kita. Kematian dan kehancuran akibat perang di era modern ini disebutnya sebagai sebuah skandal besar. Sebuah aib. Tangisan para korban, ujarnya, adalah seruan yang memilukan dan menggugah sebuah teriakan yang sampai ke hadapan Tuhan.
“Saya terus mengikuti dengan cemas situasi di Timur Tengah, serta di wilayah lain di dunia yang porak-poranda oleh perang dan kekerasan,” ucap Paus Leo.
Artikel Terkait
ASDP Ambon Perpanjang Jam Layanan Kapal Antisipasi Puncak Arus Balik Lebaran
Juara Dunia MotoGP Joan Mir Prediksi Veda Ega Pratama Bisa Kompetitif di Moto3 2026
Presiden Prabowo Telepon Sejumlah Pemimpin Muslim Ucapkan Selamat Idulfitri
Inter Miami Tak Akan Rotasi Messi Jelang Piala Dunia 2026