Paus Leo XIV Desak Penghentian Konflik Timur Tengah, Sebut Penderitaan sebagai Skandal

- Senin, 23 Maret 2026 | 20:00 WIB
Paus Leo XIV Desak Penghentian Konflik Timur Tengah, Sebut Penderitaan sebagai Skandal

Dari Lapangan Santo Petrus yang dipenuhi umat, seruan itu kembali bergema. Paus Leo XIV, pemimpin Gereja Katolik sedunia, tak henti-hentinya menyuarakan keprihatinannya atas peperangan yang melanda Timur Tengah. Kali ini, dalam doa Angelus mingguan, desakannya untuk menghentikan konflik terdengar lebih mendesak. Ia menyebut penderitaan yang terjadi sebagai sebuah "skandal bagi seluruh keluarga manusia".

Perkembangan perang yang kini memasuki pekan keempat itu, menurut pengakuannya, diikuti dengan rasa cemas yang mendalam. Apalagi dengan melibatkan pihak-pihak seperti Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

"Kita tidak bisa tetap diam di hadapan penderitaan begitu banyak orang, korban tak berdaya dari konflik ini," ujar Paus.

Baginya, luka yang diderita satu bangsa adalah luka bagi kemanusiaan secara keseluruhan. "Apa yang menyakiti mereka," tegasnya, "menyakiti seluruh kemanusiaan."

Tak hanya berhenti di kritik, Paus Leo XIV juga memperbarui ajakannya. Ia mendorong umat di seluruh penjuru dunia untuk tak jemu berdoa demi perdamaian.

"Saya dengan tegas memperbarui seruan agar kita tekun dalam doa, sehingga permusuhan dapat berhenti dan jalan menuju perdamaian akhirnya terbuka," lanjutnya.

Seruan ini jelas bukan yang pertama. Namun, ia menjadi bagian dari sebuah upaya moral Vatikan yang belakangan terasa semakin vokal. Mereka mendorong penghentian konflik yang korban sipilnya kian berjatuhan.

Dan memang, ada perubahan sikap yang cukup mencolok. Beberapa hari terakhir, Vatikan tampak meninggalkan sedikit gaya diplomasi tradisionalnya yang biasanya bekerja dalam keheningan. Kini, tekanannya disampaikan lebih terbuka dan langsung.

Buktinya? Pietro Parolin, Sekretaris Negara Vatikan, tak sungkan menyampaikan pesan langsung kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

"Ia akan mengatakan: akhiri secepat mungkin… dan biarkan Lebanon tenang," kata Parolin, yang juga menyoroti situasi genting di Lebanon.

"Pesan ini juga ditujukan kepada pihak Israel," tambahnya saat berbicara di parlemen Italia.

Parolin tak menyembunyikan kekhawatirannya. Konflik ini berpotensi meluas dan pada akhirnya memperburuk keadaan global. Karena itulah, jalan satu-satunya yang ia lihat adalah diplomasi dan dialog damai.

Perubahan Gaya Diplomasi Vatikan

Sebenarnya, Vatikan terkenal dengan diplomasi halusnya. Bekerja di balik layar, jarang sekali mereka memberi tekanan langsung kepada seorang pemimpin negara. Tapi situasi kali ini rupanya berbeda.

Eskalasi yang makin intens, ditambah korban sipil yang terus berjatuhan, tampaknya memaksa perubahan pendekatan. Menjadi lebih terbuka. Lebih tegas.

Seruan dari Paus dan pejabat tinggi Vatikannya ini kini menambah daftar tekanan internasional. Di tengah situasi yang mencemaskan, di mana perang dikhawatirkan akan meluas ke seluruh kawasan, suara mereka mencoba mengingatkan kembali tentang harga sebuah perdamaian.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar