Di sisi lain, dia mengkritik budaya mengurus secara berlebihan di tubuh partai. Baginya, Golkar adalah aset bersama, milik negara, bukan alat untuk melayani individu.
tegasnya.
Melihat ke depan, Bahlil punya target yang jelas: meningkatkan suara Golkar di Pemilu 2029. Namun begitu, jalan menuju sana harus ditempuh dengan solid. Semua keputusan, ditegaskannya, harus lahir dari musyawarah, bukan dari keinginan satu atau dua orang saja.
“Itu kerja kita semua enggak ada yang lebih hero, enggak ada. Semuanya yang punya kontribusi itu,” pungkasnya. Sebuah penekanan bahwa di partai ini, tak ada pahlawan kesepian. Semua bergerak bersama.
Artikel Terkait
Ulama dan Tokoh Nasional Tolak Mentah-Mentah Inisiatif Perdamaian Trump
Ramadan di Maskam UGM: 1.500 Porsi Mewah dan Ceramah Para Tokoh Nasional
Badung Desak Satgas Nasional Atasi Sampah yang Serang Pantai Bali
Yogyakarta Sudah Lebih Dulu, 93 Persen Rumahnya Bergenteng