Dalam sebuah rapat koordinasi nasional di Sentul, Senin lalu, Presiden Prabowo Subianto mengemukakan gagasan yang ia sebut "gentengisasi". Intinya sederhana: mendorong penggunaan genteng sebagai atap rumah di mana-mana.
Nah, kalau bicara soal tren ini, Daerah Istimewa Yogyakarta sepertinya sudah jauh lebih dulu melakukannya. Faktanya, penggunaan genteng di sana bukan lagi sekadar wacana, melainkan sudah jadi hal yang biasa dilihat.
Menurut data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) DIY yang dirilis November lalu, angka persentasenya cukup mencengangkan. Tercatat, 93,03 persen rumah tangga di wilayah tersebut sudah memakai genteng. Angka ini berasal dari Susenas Maret 2025.
"Sumber datanya dari Susenas Maret 2025, jumlah sampel di DIY sebanyak 4.020 rumah tangga tersebar di 5 kabupaten/kota se-DIY, dipilih secara systematic random sampling,"
Demikian penjelasan Agung Wibowo, Ketua Tim Statistik Sosial BPS DIY, saat dihubungi Selasa (3/2). Ia memaparkan, survei itu menjangkau rumah tangga di seluruh kabupaten dan kota.
Kalau dirinci lebih dalam, Gunungkidul memimpin dengan persentase tertinggi, yakni 96,81 persen. Kulon Progo nyaris menyamai, di angka 96,79 persen. Kemudian berturut-turut ada Bantul (94,22%), Sleman (92,41%), dan Kota Yogyakarta (83,39%).
Meski genteng mendominasi, tentu saja masih ada material lain yang dipakai. Data yang sama menunjukkan, atap asbes masih digunakan sekitar 2,92 persen rumah tangga. Lalu ada beton (1,96%), serta campuran seng dan kayu atau sirap yang menyumbang 1,81 persen.
Jadi, gagasan "gentengisasi" yang digaungkan itu sebenarnya sudah punya contoh nyata di lapangan. Yogyakarta, dengan segala kekhasannya, menunjukkan bahwa tradisi ini bisa bertahan dan justru mendominasi.
Artikel Terkait
Juru Parkir di Makassar Viral Minta Tarif Rp20.000, Polisi Amankan Pelaku
Akun Instagram Ahmad Dhani Diduga Diretas, Munculkan Promo Emas dan iPhone dengan Harga Tak Wajar
Mahfud MD: KPRP Rekomendasikan Kompolnas Jadi Lembaga Independen Pengawas Polri
Harga Emas Galeri24 Naik Rp10.000, UBS Justru Terkoreksi Rp13.000 per Gram