Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah ormas Islam di Istana, Selasa lalu, memang menarik perhatian. Salah satu yang hadir, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, kemudian membagikan poin-poin penting dari pembicaraan itu. Topik utamanya? Rencana Indonesia bergabung dengan apa yang disebut Board of Peace atau Dewan Perdamaian.
Menurut Gus Yahya, Presiden memberikan penjelasan yang cukup mendalam. Intinya, ada pertimbangan yang sangat realistis di balik langkah ini. Situasi di Timur Tengah kan kompleks. Nah, dengan ikut serta dalam dewan tersebut sebuah inisiatif Amerika Indonesia justru melihat peluang.
“Tadi kami mendapatkan penjelasan yang ekstensif dari Presiden mengenai pertimbangan-pertimbangan realistis yang harus dibuat,” ujar Gus Yahya usai pertemuan.
Dia melanjutkan, pokok pikirannya adalah bagaimana caranya agar kontribusi Indonesia untuk Palestina bisa lebih konkret dan berdampak nyata. Bukan sekadar retorika.
“Agar Indonesia ini bisa secara lebih konkret, lebih progresif, dan mengejar hasil yang lebih nyata berdampak untuk menolong Palestina,” jelasnya.
Nah, di sisi lain, Prabowo juga menekankan satu hal krusial. Partisipasi Indonesia nggak akan jalan sendirian. Justru, ini akan dibarengi dengan upaya konsolidasi atau penyatuan langkah dengan negara-negara Islam dan Timur Tengah lainnya yang juga ikut dalam dewan itu.
“Termasuk dengan mengikuti atau berpartisipasi di dalam inisiatif yang dibuat oleh Amerika yaitu Board of Peace ini, dengan diiringi konsolidasi di antara negara-negara Islam dan negara-negara Timur Tengah yang juga berpartisipasi,” papar Gus Yahya.
Jadi, alih-alih terisolasi, setiap kebijakan dan keputusan yang nanti lahir dari dewan itu diharapkan menjadi aksi bersama yang terkoordinasi. Semuanya mengerucut pada satu tujuan utama: membela dan membantu Palestina.
“Sehingga, hal-hal yang nanti dilakukan di dalam dewan tersebut akan menjadi langkah yang terkonsolidasi di antara negara-negara yang memang pada dasarnya dan menjadi motivasi mereka berpartisipasi di dalam dewan itu untuk membela dan membantu Palestina,” lanjutnya.
Singkatnya, langkah ini dilihat sebagai strategi pragmatis. Masuk ke dalam meja perundingan, lalu berusaha maksimal dari dalam untuk kepentingan yang lebih besar. Itu kira-kira garis besarnya.
Artikel Terkait
Tembok SDN Tebet Barat 08 Pagi Roboh Akibat Hujan Deras, Belajar Dialihkan ke PJJ
Banjir Setinggi 35 Cm Rendam Simpang Puri Kembangan, Lalu Lintas Menuju Cengkareng Macet Panjang
Menteri LHK Apresiasi Inovasi Tabung Harmoni Hijau dan Pengelolaan Sampah Berbasis Energi di Riau
Manchester City Gagal Manfaatkan Peluang, Tertahan di Puncak Usai Imbang 3-3 Lawan Everton