Indonesia Tetap Jadi Magnet Investor di Tengah Gejolak Global

- Selasa, 03 Februari 2026 | 20:15 WIB
Indonesia Tetap Jadi Magnet Investor di Tengah Gejolak Global

Di tengah gejolak ekonomi global yang tak kunjung reda, Indonesia ternyata masih tetap jadi incaran. Ya, investor dari mancanegara masih melirik negeri ini. Stabilitas makroekonomi dan kebijakan yang konsisten disebut-sebut sebagai magnet utamanya, menawarkan sesuatu yang langka di kawasan: relevansi, daya saing, dan prospek jangka panjang.

Faktornya beragam. Selain fondasi ekonomi yang stabil, Indonesia punya demokrasi yang sudah mapan dan yang tak kalah penting populasi muda yang produktif. Pertumbuhan ekonomi yang konsisten di kisaran 5% lebih itu memberikan secercah kepastian di tengah volatilitas pasar dunia yang serba tak menentu.

Gambaran inilah yang mengemuka pada hari pertama Indonesia Economic Summit (IES) 2026 di Jakarta, 3-4 Februari lalu. Agenda reformasi berkelanjutan dan arah kebijakan yang jelas membuat Indonesia dinilai punya kapasitas menangkap peluang investasi untuk tahun-tahun mendatang.

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dalam sambutannya membeberkan sejumlah pencapaian. Dari kemajuan negosiasi perdagangan hingga komitmen pendanaan hijau.

"Sebagian besar negosiasi perdagangan telah diselesaikan, dengan Kanada, dengan UE, dengan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU), dan kami sedang dalam proses menyelesaikan perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat," ujar Airlangga.

Dia juga menyebut komitmen pendanaan JETP dari negara-negara G20 yang mencapai USD21,4 miliar, dengan sekitar USD3,5 miliar yang sudah dimanfaatkan. Tak cuma itu, rencana investasi Australia dan kolaborasi transportasi dengan Sarawak Air Malaysia juga digaungkan untuk mendukung pariwisata di luar Jakarta dan Bali.

"Ini berarti ada banyak modal dalam pipeline yang siap untuk diinvestasikan di Indonesia," tegasnya.

Di forum yang sama, Airlangga menyentuh soal reformasi pasar modal. Empat pilar jadi fokus: efisiensi, transparansi, tata kelola, dan penegakan hukum. "Hingga pagi ini, pasar modal telah kembali ke zona hijau, yang menandakan respons pasar yang positif," katanya.

Di sisi lain, Ketua Dewan Pengawas Indonesia Business Council Arsjad Rasjid menekankan peran IES 2026 sebagai platform strategis. Tujuannya membangun kepercayaan di tengah dunia yang penuh dengan "multiple layers of unknowns" atau ketidakpastian berlapis.

“Tujuan kami adalah memastikan Indonesia tetap atraktif, kompetitif, dan produktif. Fokus kami tertuju pada tiga pilar utama yakni Kepastian (Certainty), Kapabilitas (Capability), dan Modal (Capital),” jelas Arsjad.

Gelaran summit ini juga diwarnai peluncuran Business 57 (B57 ) Asia-Pacific Regional Chapter. Inisiatif ini bertujuan memperkuat konektivitas ekonomi antarnegara Islam, dengan Indonesia diposisikan sebagai simpul utama di kawasan Asia-Pasifik.

Presiden Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD) Abdullah Saleh Kamel menyambut baik langkah ini.

”Dunia usaha, investasi, perdagangan, dan keuangan, dapat memainkan peran utama dalam memajukan masyarakat kita. Visi ini sejalan dengan komitmen para pemimpin politik di negara-negara seperti Arab Saudi, Indonesia, Malaysia, Turki, dan Pakistan yang secara aktif berupaya memberdayakan sektor swasta melalui reformasi legislatif dan infrastruktur digital,” kata Abdullah.

Lalu, bagaimana analisis para ekonom? Chief Economist IBC Denni Purbasari melihat kombinasi demokrasi, populasi muda, dan pertumbuhan stabil di angka 5,1-5,2 persen sebagai daya tarik kuat.

“Komitmen pemerintah terhadap openness dan reform, kestabilan ekonomi makro dan politik, menjadi faktor yang menarik bagi investor asing untuk masuk, baik melalui direct investment maupun portofolio,” ungkap Denni.

Menurutnya, peluang investasi kini makin melebar. Program prioritas pemerintah seperti ketahanan pangan, energi, dan kesehatan membuka ruang kemitraan yang luas. Tak cuma seputar rantai pasok kendaraan listrik yang sedang naik daun.

“Sektor yang menarik tidak hanya terkait rantai pasok kendaraan listrik, tapi juga di sektor tanaman pangan, hortikultura, peternakan, perkebunan, dan perikanan yang mendukung ketahanan pangan, sektor energi terbarukan, kesehatan, jasa keuangan, bahkan sektor pendidikan termasuk vokasi yang semakin serius ditingkatkan oleh pemerintah agar skill masyarakat Indonesia mampu menjawab tantangan,” paparnya.

Jadi, meski angin global tak selalu bersahabat, narasi tentang Indonesia sebagai magnet investasi ternyata masih cukup kuat. Setidaknya, itu yang tercium dari hajatan IES 2026.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar