Amir Hamzah Desak Prabowo Ganti Tito, Dinilai Ancam Hubungan dengan Malaysia

- Jumat, 19 Desember 2025 | 15:50 WIB
Amir Hamzah Desak Prabowo Ganti Tito, Dinilai Ancam Hubungan dengan Malaysia

Sikap Tito Karnavian Dinilai Tak Beradab, Bisa Rusak Hubungan RI-Malaysia

Kritik pedas datang dari pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah. Kali ini, sasarannya adalah Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian. Menurutnya, sikap dan pernyataan Tito sudah melampaui batas. Bukan cuma soal etiket, tapi ini berpotensi besar mengacaukan hubungan diplomatik kita dengan Malaysia.

Bagi Amir, seorang menteri itu bukan bicara untuk dirinya sendiri. Setiap kata yang keluar selalu membawa simbol dan wibawa negara. Jadi, dalam urusan antarnegara, dampaknya bisa serius.

“Cara Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian itu jelas menyalahi adab. Sikap seperti ini sangat berpotensi memperkeruh hubungan persahabatan antara Indonesia dan Malaysia yang selama ini sudah terbangun dengan susah payah,”

Begitu kata Amir Hamzah dalam keterangannya kepada wartawan, Jumat lalu.

Ia menegaskan, hubungan kita dengan Malaysia itu kompleks. Bukan cuma formalitas kenegaraan, tapi juga soal sejarah, budaya, dan kepentingan strategis yang sudah lama terjalin. Semuanya butuh kehati-hatian ekstra untuk dijaga. Makanya, Amir gerah melihat urusan dalam negeri dicampur aduk dengan isu yang langsung bersinggungan dengan hubungan luar negeri.

“Tito seharusnya memahami batas kewenangan dan etika. Jangan mencampuradukkan kegiatan dan kepentingan dalam negeri dengan urusan yang berkaitan dengan hubungan internasional. Itu bukan tugas dan fungsi Menteri Dalam Negeri,”

tegasnya lagi.

Dalam sistem pemerintahan, setiap kementerian punya porsinya masing-masing. Urusan diplomasi dan hubungan luar negeri, itu ranahnya Kementerian Luar Negeri dan tentu saja, Presiden sebagai kepala negara. Bukan domain Mendagri.

Dampaknya bisa lebih jauh lagi. Amir khawatir, pernyataan yang dianggap tak beradab ini tak cuma merusak hubungan bilateral, tapi juga mengikis kehormatan Presiden Prabowo Subianto di mata tetangga.

“Ucapan yang tidak pantas dari seorang menteri bisa ditafsirkan sebagai sikap resmi pemerintah. Ini bisa mencederai wibawa Presiden di hadapan pemimpin negara lain, khususnya Malaysia,”

ujarnya memperingatkan.

Di panggung diplomasi, kesan adalah segalanya. Sekali salah ucap, bisa langsung ditangkap sebagai sikap negara, meski mungkin niatnya bukan begitu.

Karena itulah, Amir Hamzah mendesak Presiden Prabowo untuk mengevaluasi posisi Tito Karnavian. Bahkan, ia menyarankan agar Tito diganti dengan tokoh lain yang lebih matang secara politik dan paham betul soal etika pemerintahan.

“Agar tidak terulang lagi, sebaiknya Presiden Prabowo segera mengganti Tito Karnavian. Indonesia membutuhkan Menteri Dalam Negeri yang fokus mengelola urusan domestik, bukan mencampurbaurkan dengan aktivitas diplomatik yang sensitif,”

katanya.

Di awal pemerintahan ini, stabilitas politik dalam negeri dan hubungan baik dengan negara sahabat adalah modal utama. Modal untuk menjalankan agenda besar, dari pembangunan ekonomi sampai menjaga posisi strategis Indonesia di ASEAN.

Amir juga menekankan soal keteladanan. Di era informasi yang menyebar cepat seperti sekarang, setiap ucapan pejabat bisa langsung melintas batas negara. Harusnya, mereka lebih waspada.

“Pejabat negara harus sadar bahwa setiap ucapannya direkam sejarah dan dinilai oleh publik internasional. Adab, etika, dan kebijaksanaan adalah syarat mutlak,”

tutupnya.

Sampai saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Tito Karnavian maupun dari Istana terkait desakan evaluasi ini. Polemik ini setidaknya mengingatkan kita semua: betapa runcingnya kata-kata di dunia diplomasi, dan betapa mahal harganya jika salah keluar.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar