Dari Pacitan ke Puncak Podium, Luluk Diana Ukir Sejarah di SEA Games

- Jumat, 19 Desember 2025 | 10:00 WIB
Dari Pacitan ke Puncak Podium, Luluk Diana Ukir Sejarah di SEA Games

✍🏻A. Ainur Rohman

Cerita ini berawal dari Samsuri. Namanya mungkin tak banyak dikenal, tapi dialah pelatih angkat besi dari Desa Sooka, Punung, yang punya mata tajam melihat berlian mentah. Di Pacitan, Jawa Timur, ia menemukan Luluk Diana Tri Wijayana.

Luluk hanyalah anak petani dari keluarga sederhana. Rumahnya semi permanen, kehidupannya jauh dari gemerlap kota. Tapi di situlah Samsuri melihat sesuatu yang istimewa. Ia membimbing, mengasah, dan membentuk Luluk hingga seperti sekarang.

Kini, siapa sangka? Luluk menjelma menjadi salah satu prospek terbaik Indonesia. Gelar juara dunia remaja dan junior sudah digenggamnya. Dan pekan ini, di ajang SEA Games, ia berhasil mengalahkan juara dunia dua kali asal Thailand. Medali emas pun diraih.

"

Tangisnya pecah begitu lagu Indonesia Raya berkumandang. Di arena angkat besi SEA Games Thailand 2025 itu, Luluk Diana Tri Wijayana tak kuasa menahan haru. Ia berdiri di podium tertinggi, membuktikan diri sebagai yang terbaik di nomor Women’s 48 kilogram.

Perjuangannya benar-benar ketat. Dengan total angkatan 184 kilogram, ia berhasil mengungguli lifter tuan rumah, Thanyathon, yang mengangkat 183 kilogram. Lifter Vietnam, Thi Thu Trang Nguyen, menyusul di posisi ketiga dengan 181 kilogram.

Ini adalah emas ke-23 untuk kontingen Indonesia. Tapi bagi Luluk, momen itu jauh lebih dari sekadar angka. Itu adalah puncak dari segala jerih payah, latihan tanpa henti, dan mimpi seorang anak desa dari Pacitan.

Tangis haru di podium itu bicara banyak. Ia adalah ungkapan bangga, lega, dan mungkin juga kenangan akan perjalanan panjang yang penuh rintangan. Sebuah momen yang membuktikan, talenta hebat bisa datang dari mana saja.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar