Prabowo Sebut Bencana Hanya Tiga dari 38 Provinsi, Respons Publik Bergemuruh

- Kamis, 18 Desember 2025 | 16:40 WIB
Prabowo Sebut Bencana Hanya Tiga dari 38 Provinsi, Respons Publik Bergemuruh

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tiba-tiba jadi perbincangan hangat. Pasalnya, ia menyebut ketiganya hanya "tiga provinsi dari 38 provinsi".

Ucapan itu meluncur dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin lalu. Prabowo menyinggung soal desakan sejumlah pihak yang meminta status darurat bencana nasional segera ditetapkan.

Menurutnya, pemerintah sudah mengerahkan segala upaya. Situasi, klaim Presiden, sepenuhnya terkendali.

"Ada yang teriak-teriak ingin ini dinyatakan bencana nasional. Kita sudah kerahkan, ini tiga provinsi dari 38 provinsi. Jadi, situasi terkendali. Saya monitor terus, ya,"

Begitu kata Prabowo di hadapan para menteri.

Namun begitu, nada pernyataan itu justru memantik reaksi. Banyak yang menangkap kesan kurang empati. Seolah penderitaan korban direduksi menjadi sekadar angka dan perbandingan statistik belaka.

Di media sosial, komentar pun bertebaran. Salah satunya dari akun Threads @dani_ismantoko yang dengan sarkasme menulis, "Disebut 11/100 marah, tapi nyebut 3/38 enteng saja."

Penyanyi Kunto Aji juga ikut angkat bicara. Ia menyoroti bagaimana penggunaan angka-angka tertentu bisa dengan mudah menyentuh luka emosional yang tersembunyi.

“Oh iya, itulah kenapa 11/100 bikin sakit hati banget. Mungkin triggering trauma. Penasaran kalau melalui proses assessment temen-temen psikologi. Masa kecilnya terutama. Karena kan usia jadi anak-anak lagi ini,”

Ujarnya, merujuk pada lagu andalannya, "Sudah Terlalu Lama Sendiri".

Jadi, di tengah upaya pemerintah meyakinkan publik bahwa segala sesuatunya bisa diatasi, justru yang muncul adalah kegelisahan lain. Bukan lagi soal teknis penanganan, tapi tentang rasa apakah keprihatinan yang tulus masih terdengar di balik deret angka dan perhitungan yang dingin?

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar