Suasana di Pendapa Kabupaten Kudus pada Rabu lalu terasa hangat dan ramai. Di sana, sekitar 150 kader PKK dari berbagai penjuru kabupaten berkumpul. Mereka bukan cuma datang untuk dengar-dengar seminar biasa. Acara yang digelar Bakti Lingkungan Djarum Foundation ini lebih dari sekadar sosialisasi pengelolaan sampah organik rumah tangga. Ada demo masak seru yang bikin suasana makin gayeng.
Mentor masaknya bukan sembarang orang. Isman Ridhwansah, influencer lokal yang dikenal dengan komunitas ASIK Kudus dan juga mantan peserta MasterChef Indonesia, turun langsung memandu. Para ibu-ibu itu pun dengan antusias mencoba memodifikasi resep mi terbang dan minuman jeruk segar yang diajarkan. Yang menarik, setelah selesai masak, mereka langsung diajak memilah sisa bahan ke dalam tiga jenis tempat sampah: organik, anorganik, dan residu. Praktik langsung seperti ini rupanya lebih mudah dicerna.
Menurut Mutiara Diah Asmara, Director Communication Djarum Foundation, kolaborasi dengan Pemkab Kudus dan TP PKK ini punya tujuan yang jelas. Inisiatif ini ingin mendorong perubahan perilaku, dimulai dari rumah tangga.
“Upaya ini untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya, yaitu rumah tangga, dengan memperkuat peran ibu sebagai penggerak utama,” ujar Mutiara.
Ia menegaskan, persoalan sampah bukan cuma urusan teknis. Ini soal kebiasaan. Dan siapa lagi kalau bukan ibu yang punya peran kunci dalam mengatur ritme keluarga sehari-hari. Momentum Hari Ibu dijadikan ruang untuk memperkuat kapasitas para ibu agar pengelolaan sampah jadi lebih terencana dan dampaknya bisa dirasakan lingkungan sekitar.
Pendapat serupa datang dari Redi Joko Prasetyo, Deputy Program Manager BLDF. Baginya, ibu-ibu inilah calon agen perubahan yang potensial.
“Harapannya bisa menjadi agent of change agar aktif memilah sampah organik. Aktivitas memasak ini kan keseharian ibu, jadi kami hadirkan demo masak agar mereka punya pemahaman tentang sampah organik, anorganik, dan sebagainya,” jelas Redi.
Program pemilahan sampah BLDF sendiri sudah berjalan sejak 2018. Fokusnya pada sampah organik domestik yang volumenya memang paling besar. Sampah yang terkumpul kemudian diolah jadi pupuk kompos. Redi menyebut, saat ini mereka sudah mengolah sekitar 57 ton sampah organik per hari. Bahkan, mereka sudah menyiapkan 7.000 tong sampah lebih untuk mendukung jika program ini benar-benar aktif di tingkat rumah tangga.
Dukungan juga datang dari Ketua TP PKK Kabupaten Kudus, Endhah Endhayani Sam’ani Intakoris. Ia menyambut baik kegiatan ini.
“Perempuan, khususnya para ibu, memiliki peran sentral dalam mengatur pola konsumsi sekaligus mengelola limbah rumah tangga. Jika setiap keluarga yang didampingi kader PKK mulai memilah dan mengolah sampah organik dari dapur, dampaknya akan sangat signifikan,” ungkap Endhah.
Ia yakin, gerakan kecil di dapur masing-masing, bila dilakukan ribuan keluarga, akan membawa perubahan besar di tingkat kabupaten.
Antusiasme terasa dari para peserta. Seperti Kusmainingsih, warga Kecamatan Dawe yang berusia 50 tahun ini mengaku senang bisa dapat ilmu baru.
“Nggih seneng sekali bisa dapat ilmu. Alhamdulillah jadi tahu gimana cara memilah sampah. Nanti langsung tak ajarkan ke tetangga-tetangga,” ucapnya.
Kegembiraannya makin lengkap karena ia juga pulang membawa beberapa doorprize, seperti alat penanak nasi, celemek, sampai tong sampah khusus. Barang-barang yang menurutnya sangat bermanfaat untuk langsung dipraktikkan di rumah.
Rupanya, langkah kecil memilah sampah di dapur bisa dimulai dengan cara yang menyenangkan. Dan para ibu di Kudus ini sedang memulainya.
Artikel Terkait
Garuda Muda Kalahkan China 1-0 di Laga Perdana Piala Asia U-17 2026
Arsenal Vs Atletico Madrid: Laga Penentuan Tiket Final Liga Champions di Emirates
Paus Sperma 15 Meter Terdampar Mati di Pantai Jembrana Bali
Persib dan Borneo FC Imbang Poin di Puncak Klasemen, Laga Kontra Persija Jadi Penentu Gelar Liga 1