Lalu, apa pemicunya? Laporan itu menyoroti dua hal. Pertama, soal kesejahteraan. Parlemen Israel, Knesset, hingga kini belum menyetujui rancangan amandemen undang-undang yang menaikkan hak pensiun antara 7 hingga 11 persen. Keterlambatan ini disebut memperparah ketidakpuasan.
Namun begitu, akar masalahnya tampaknya lebih dalam. Gaji yang dinilai rendah hanyalah satu bagian. Faktor kelelahan dan attrisi yang melonjak selama konflik di Gaza disebut-sebut berkaitan erat dengan gelombang resign ini. Perlu dicatat, yang mengajukan permohonan keluar adalah personel tetap dinas reguler, bukan tentara cadangan.
Jika tren ini berlanjut, akibatnya bisa serius. Sebuah sumber militer memperkirakan kekuatan keseluruhan angkatan bersenjata Israel akan menyusut secara signifikan dalam waktu dekat. Sebuah gambaran yang suram untuk sebuah institusi yang sedang berada di bawah tekanan berat.
Artikel Terkait
Elkan Baggott dan Timnas Indonesia Siap Tampil Beda di Era Baru John Herdman
PSM Makassar Gelar Latihan Perdana Usai Libur, Lima Pemain dan Pelatih Trucha Absen
Brigjen TNI (Mar) Briand Iwan Prang Diangkat sebagai Dosen Tetap Universitas Pertahanan
Program Makan Bergizi Gratis Diwarnai Ribuan Pelanggaran, 1.030 Dapur Ditangguhkan