Israel Rencanakan 9.000 Unit Pemukiman Baru di Atas Bekas Bandara Yerusalem

- Rabu, 17 Desember 2025 | 05:25 WIB
Israel Rencanakan 9.000 Unit Pemukiman Baru di Atas Bekas Bandara Yerusalem

Yerusalem Rencana Israel untuk membangun ribuan unit pemukiman baru di Yerusalem Timur kian mengkristal. Kali ini, targetnya adalah lahan bekas Bandara Internasional Yerusalem, atau Qalandia. Menurut sejumlah pengamat, langkah ini bukan sekadar perluasan permukiman biasa. Ini adalah eskalasi berbahaya yang bertujuan mengukir peta baru di lapangan, mengisolasi Yerusalem utara dari kantong-kantong komunitas Palestina di sekitarnya.

Bayangkan saja: sekitar 9.000 unit rumah akan didirikan di atas tanah yang sebagian merupakan milik pribadi warga Palestina. Skemanya masif. Proyek semacam ini, jika jadi, bakal menjadi pukulan telak bagi kesinambungan geografis antara Yerusalem dan Ramallah. Tatanan perkotaan Palestina di kawasan itu terancam runtuh.

Lokasinya sendiri sangat strategis, atau lebih tepatnya, sangat rawan. Kawasan itu adalah jantung wilayah perkotaan Palestina yang padat, mencakup Kafr Aqab, Qalandia, Al-Ram, Beit Hanina, dan Bir Nabala. Kehadiran pemukiman baru Israel di tengah-tengahnya jelas akan mempersempit ruang hidup warga. Yang tadinya terintegrasi, bakal terpecah-belah. Kebijakan isolasi yang selama ini diterapkan Israel terhadap Yerusalem, diprediksi akan makin mengental.

Nah, prosesnya sedang berjalan. Komite Perencanaan dan Pembangunan Distrik Israel rencananya akan menggelar pertemuan penting Rabu depan. Dalam pertemuan itu, mereka diperkirakan akan menyetujui prinsip-prinsip dasar proyek. Termasuk di dalamnya, alokasi untuk ruang komersial dan area publik yang tentu saja dirancang untuk melayani pemukim baru.

Di sisi lain, ada perkembangan lain yang patut dicermati. Kementerian Keuangan Israel baru-baru ini minta persetujuan dana senilai 16 juta shekel kepada Komite Keuangan Knesset. Uang itu, secara resmi, dialokasikan ke Kementerian Perlindungan Lingkungan untuk merehabilitasi lahan terkontaminasi termasuk area bekas bandara tadi.

Tapi jangan salah. Banyak yang memandang ini sebagai cara licik untuk menyingkirkan "hambatan lingkungan" semata. Tujuannya satu: mempercepat pembangunan pemukiman.

Para ahli tata kota dan pengamat HAM sudah angkat bicara. Peringatan mereka serius. Implementasi proyek ini akan menciptakan kantong pemukiman besar yang memutus Yerusalem utara dari lingkungan alaminya. Dampaknya bukan cuma fisik. Ini soal kemanusiaan. Fragmentasi kota akan makin dalam, sistem isolasi dan pemisahan paksa yang dirasakan warga Palestina akan kian kokoh.

Mereka menekankan, rencana ini harus terus diungkap ke mata dunia. Komunitas internasional, organisasi HAM, sampai PBB harus tahu. Dibutuhkan tindakan mendesak untuk menghentikannya. Soalnya, proyek semacam ini jelas melanggar hukum internasional. Ini adalah perubahan sepihak atas status wilayah pendudukan, yang sudah berkali-kali ditolak oleh berbagai resolusi dunia.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar