Video Perundungan Siswi SMP di Surabaya Berawal dari Rebutan Pacar

- Minggu, 01 Februari 2026 | 11:50 WIB
Video Perundungan Siswi SMP di Surabaya Berawal dari Rebutan Pacar

Sebuah video yang beredar luas di media sosial memicu kemarahan publik. Dalam rekaman itu, terlihat aksi perundungan keji terhadap seorang siswi SMP kelas satu di Surabaya. Bukan cuma kata-kata kasar, tapi juga kekerasan fisik yang sulit ditonton.

Dari video yang viral itu, tampak lebih dari lima remaja perempuan mengeroyok satu korban. Mereka mengepungnya. Beberapa pelaku dengan seenaknya menampar, bahkan memukul wajah gadis malang itu. Yang lain ikut-ikutan menyorong kepala korban dari berbagai arah, bergantian, bak sebuah aksi penyiksaan yang terencana.

Korban diketahui berinisial CP, masih 13 tahun. Sementara tujuh remaja yang diduga sebagai pelaku kini dalam proses hukum. Mereka adalah SL (13), DA (12), CPR (13), SPE (14), IR (14), GA (13), dan PR (13). Usia mereka pun masih sangat belia.

Menurut informasi, kejadian memilukan ini berlangsung pada 30 Desember 2025 lalu, di sekitar Kelurahan Kapasari, Surabaya. Dua hari setelahnya, tepatnya 1 Januari 2026, korban akhirnya memberanikan diri melaporkan peristiwa itu ke Polsek Simokerto. Laporan itu tercatat dengan nomor TBL-B/01/I/2026/SPKT/POLSEK SIMOKERTO.

Di sisi lain, upaya pendampingan terhadap korban juga telah dilakukan. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya turun tangan.

Ida Widayati, Kepala DP3APPKB Surabaya, mengonfirmasi hal ini.

"Itu kejadiannya 30 Desember, sudah kita dampingi mulai tanggal 5 Januari. Proses hukumnya juga sudah berjalan. Kita juga sudah koordinasi dengan teman-teman Polrestabes. Ini memang memang masih proses," jelas Ida.

Lantas, apa motif di balik kekerasan yang melibatkan remaja belia ini? Jawabannya justru membuat kita mengelus dada. Setelah digali, penyebabnya ternyata hal yang sepele.

"Lah itu waktu digali-digali apa sih masalahnya? Tibake (ternyata) rebutan cowok," ujar Ida dengan nada yang tak menyembunyikan kekecewaan.

Hingga saat ini, proses hukum masih terus berlanjut. Kasus ini menjadi pengingat pilu betapa persoalan remaja yang dianggap biasa bisa berujung pada kekerasan yang luar biasa kejam.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler