Di sebuah kelas PAUD di Tarakan, Kalimantan Utara, seorang guru asyik mengajar menggunakan layar sentuh besar. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, MURIANETWORK.COM Riza Ul Haq, yang kebetulan mampir, duduk diam di bangku belakang. Yang mengejutkannya, justru suara anak-anak itu. Mereka sedang belajar Bahasa Mandarin dengan antusias.
“Kemarin waktu saya berkunjung ke Tarakan, saya mampir ke satu kelas, kelas PAUD. Gurunya lagi ngajar pakai IFP gitu kan,” cerita Fajar.
“Terus saya dengerin mereka lagi belajar Bahasa Mandarin. Karena sekolah itu mengajarkan Bahasa Mandarin,” lanjutnya.
Momen itu, baginya, adalah bukti nyata. Teknologi seperti Interactive Flat Panel (IFP) ternyata bisa membawa kualitas pembelajaran yang setara ke berbagai penjuru negeri, tak terkecuali daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Ia pun teringat kunjungan lain ke SD Indo Tionghoa di tempat yang sama.
“Di manapun anak-anak kita sekolah, termasuk di daerah 3T, dia akan mendapatkan akses yang sama terhadap konten pembelajaran yang sama baiknya, sama mutunya,” tegas Fajar dalam Rapat Koordinasi Data dan Teknologi Informasi Pendidikan di Jakarta Pusat, Senin lalu.
Tapi, cerita itu punya sisi lain. Saat ia tanya sumber belajarnya, guru itu menjawab dari ‘Rumah Pendidikan’. Namun, ada keluhan yang mengiringinya.
“Mereka buka-buka. Tapi memang mereka mengatakan tidak semua materi yang mereka butuhkan tersedia. Nah ini adalah tantangan kita semua,” ungkapnya.
Di sinilah persoalan sebenarnya muncul. Mendistribusikan perangkat canggih hanyalah langkah awal. Pekerjaan rumah berikutnya jauh lebih berat: menyediakan konten digital yang memadai, beragam, dan yang paling penting, menarik minat siswa zaman sekarang.
“Setelah pemerintah membagikan Interactive Flat Panel, tantangannya adalah bagaimana kita bisa menyiapkan konten-konten yang kreatif, yang menarik, dengan jumlah yang memang banyak, besar,” tutur Fajar.
Ia melihat pergeseran yang jelas. Anak-anak masa kini, menurutnya, lebih mudah terlibat dengan materi visual dan pendekatan seperti permainan. Buku teks konvensional? Itu sudah ketinggalan zaman bagi banyak dari mereka.
“Anak-anak hari ini bosan baca buku, apalagi nggak ada gambarnya,” katanya blak-blakan.
Lalu, solusinya apa? Fajar justru melihat peluang besar di tangan para guru sendiri. Ia mendorong mereka untuk tidak hanya menjadi konsumen, tapi juga pencipta.
“Bapak Ibu guru boleh membikin konten, diusulkan masuk ke dalam IFP nanti akan dikurasi. Sehingga konten Bapak Ibu bukan hanya dipelajari oleh anak-anak di sekolah sendiri, tapi juga di sekolah yang lain,” ajaknya.
Pada akhirnya, semuanya bermuara pada semangat berbagi. Pertukaran pengetahuan antar guru, menurut MURIANETWORK.COM, adalah kunci untuk membangun ekosistem digital yang benar-benar hidup dan berkelanjutan.
“Pengetahuan itu kan dibagi, bukan dikuasai. Semakin pengetahuan dibagi, maka dia akan memberikan dampak yang lebih luas,” tandasnya menutup pembicaraan.
Artikel Terkait
Komisi III DPRD Bone Sidak Perbaikan Dermaga Pelabuhan Bajoe, Progres Capai 30 Persen
Maia Estianty Pamer Momen Mesra dengan Irwan Mussry di Tengah Polemik Ahmad Dhani soal Dugaan KDRT
PDAM Bone Antisipasi Krisis Air Bersih Akibat Musim Kemarau dan Alih Fungsi Lahan
Perekonomian Sulawesi Selatan Tumbuh 6,88 Persen di Triwulan I 2026, Ditopang Sektor Pemerintahan dan Konsumsi Publik