Penyelidikan KPK terkait kasus iklan Bank BJB terus bergulir. Kali ini, lembaga antirasuah itu memanggil sejumlah saksi untuk dimintai keterangan. Salah satu nama yang muncul adalah Randy Kusumaatmadja, yang pernah menjadi asisten pribadi Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dari 2018 hingga 2023.
Juru bicara KPK, Budi Prasetyo, mengonfirmasi hal itu pada Kamis (29/1).
“Hari ini, KPK menjadwalkan pemeriksaan saksi terkait dugaan TPK dalam pengadaan iklan di Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (BJB),” ujarnya.
Pemeriksaan digelar di Polda Jawa Barat. Sayangnya, Budi enggan merinci lebih jauh soal materi yang digali dari para saksi. Mereka pun, setidaknya sampai berita ini ditulis, belum memberikan komentar apa pun.
Selain Randy, ada lima nama lain yang turut diperiksa. Mereka adalah Joko Hartoto (Pimpinan SKAI Bank BJB), Djunianto Lemuel (Direktur Golden Money Changer), Arti (pegawai di tempat yang sama), lalu Ervin Yanuardi Effendi (Kasubag Rumah Tangga Gubernur), dan Wena Natasha Olivia yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga.
Ini bukan kali pertama nama Ridwan Kamil terseret dalam kasus ini. Sebelumnya, mantan gubernur yang akrab disapa RK itu sudah pernah dipanggil sebagai saksi. KPK menduga ada aliran uang yang mengarah padanya. Tak hanya RK, Lisa Mariana dan Ilham Habibie juga sudah diperiksa penyidik.
Pemeriksaan terhadap putra mantan Presiden Habibie itu konon terkait pembelian mobil Mercedes Benz miliknya oleh RK. Sementara Lisa diduga terkait aliran dana dari Ridwan Kamil. KPK juga sudah menyita motor Royal Enfield milik RK, yang diduga ada kaitannya dengan perkara korupsi ini.
RK sendiri menjalani pemeriksaan cukup panjang, sekitar enam jam, pada Selasa (2/12) lalu. Usai keluar dari gedung KPK, ia terlihat lega.
“Ya jadi pertama saya sangat bahagia karena ini momen yang ditunggu-tunggu, berbulan-bulan ingin melakukan klarifikasi kan ya. Nah hari ini saya sudah melakukan klarifikasi,” kata RK.
Ia bersikukuh tak tahu menahu soal kasus korupsi pengadaan iklan BJB itu. Soal aset yang disita, RK menyebut itu dibeli dengan uang pribadinya. Adapun terkait aliran dana ke Lisa Mariana, RK mengaku justru merasa diperas.
“Jadi pada dasarnya yang paling utama adalah saya itu tidak mengetahui apa yang namanya menjadi perkara dana iklan ini,” tegasnya.
Mengulik Kasus Iklan BJB
Kasus ini sendiri sudah menjerat lima orang sebagai tersangka. Mereka adalah Yuddy Renaldi (Dirut BJB), Widi Hartoto (Pimpinan Divisi Corporate Secretary BJB), Ikin Asikin Dulmanan (pemilik agensi Antedja Muliatama dan Cakrawala Kreasi Mandiri), Suhendrik (pemilik agensi BSC dan Wahana Semesta Bandung Ekspress), serta R. Sophan Jaya Kusuma (pemilik agensi Cipta Karya Mandiri Bersama dan Cipta Karya Sukses Bersama).
Inti masalahnya ada pada dugaan korupsi penempatan iklan BJB di media selama periode 2021-2023. Diduga ada permainan antara oknum di bank dan agensi iklan. Dari anggaran sekitar Rp 300 miliar, hanya sekitar Rp 100 miliar yang benar-benar dipakai untuk iklan. Selisih fantastis, sekitar Rp 222 miliar, dikatakan fiktif.
Nah, dana selisih yang menguap itulah yang diduga dipakai untuk memenuhi kebutuhan dana non-anggaran (non-bujeter) oleh pihak BJB. KPK sekarang masih mendalami, siapa sebenarnya penggagas dan untuk apa saja uang itu dipakai. Aliran dananya pun sedang ditelusuri lebih detail.
Dalam proses penyidikan, KPK sudah menggeledah rumah Ridwan Kamil dan kantor pusat BJB. RK sendiri mengklaim kooperatif dengan semua langkah KPK. Kelima tersangka saat ini sudah dicegah ke luar negeri, meski belum ditahan. Mereka dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 UU Tipikor. Sampai saat ini, belum ada pernyataan resmi dari kelimanya.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu