Lalu ada juga amarah yang meluap. Seorang Ibu dari Pidie Jaya, yang kehilangan segalanya, menyuarakan kemarahannya dengan lantang. Bencana ini, menurutnya, bukan semata takdir. “Tolong tangkap orang-orang yang memotong pohon dan menanam sawit, siapapun. Itu zalim!” serunya. Sebuah tuntutan yang menusuk langsung ke akar masalah, setidaknya dalam pandangannya.
Di tengah semua itu, ada pula permintaan yang paling sederhana namun terasa paling berat: doa.
Seorang perempuan muda, yang sudah berjalan lima hari dari Langsa menuju Aceh Tengah, tak meminta materi. “Kami masyarakat Aceh meminta doa kepada seluruh masyarakat agar kami bisa bangkit kembali,” katanya.
Lalu ia berhenti sejenak, sebelum menegaskan, “Ini bukan berarti kami minta dikasihani.”
Sebuah permohonan yang penuh harga diri. Mereka ingin bangkit, bukan sekadar bertahan.
(")
Artikel Terkait
Veda Ega Pratama Raih Podium Moto3 Brazil Usai Strategi Cerdas di Balik Bendera Merah
Prabowo Unggah Foto Lawas Bersama Soeharto di Momen Ulang Tahun Putra
Antrean Kendaraan Mulai Mengular di Bakauheni Jelang Puncak Arus Balik Lebaran
Semifinal Lomba Domino IKATSI Unhas Berlangsung Sengit di Unhas Hotel