Cerita Pengungsi Aceh
✍🏻 Risman Rachman
Suaranya pelan, nyaris bergetar. Di tengah reruntuhan yang masih basah, seorang nenek di Bireuen menyampaikan permintaannya kepada sang bupati. Bukan makanan atau pakaian, melainkan sebuah Al Quran. Tapi bukan sembarang Al Quran. Ia ingin yang ada terjemahannya.
“Al Quran, Pak, yang na arti Pak. Sebab ka bulut (basah) maka jih loen lake,” ucapnya.
Allahu akbar. Dalam situasi paling sulit, yang dicari adalah pegangan hati.
Di sisi lain, permintaan lain datang dari seorang ibu. Ia sangat berharap bisa mendapat mukena dan sarung untuk shalat. “Laen ndak apa, itu aja,” katanya. Lalu, seolah teringat, ia menambahkan, “selimut kalau ada.”
Namun begitu, tidak semua permintaan bersifat pribadi. Di Bener Meriah, seorang ibu justru memikirkan orang banyak. Baginya, bantuan sembako bisa menunggu. Yang paling genting adalah membuka akses jalan yang terputus. “Jika orang tua masih bisa bertahan dengan makan apa adanya, tapi gimana dengan bayi,” ujarnya, suaranya penuh kekhawatiran. Bayi-bayi itu tak bisa menunggu lama.
Artikel Terkait
Veda Ega Pratama Raih Podium Moto3 Brazil Usai Strategi Cerdas di Balik Bendera Merah
Prabowo Unggah Foto Lawas Bersama Soeharto di Momen Ulang Tahun Putra
Antrean Kendaraan Mulai Mengular di Bakauheni Jelang Puncak Arus Balik Lebaran
Semifinal Lomba Domino IKATSI Unhas Berlangsung Sengit di Unhas Hotel