MURIANETWORK.COM – Minggu malam di Sirkuit Ayrton Senna, Brazil, menyuguhkan drama yang cukup mengejutkan. Veda Ega Pratama, pembalap muda Indonesia, tampil dengan dua wajah yang sangat berbeda dalam satu balapan Moto3 yang sama.
Start dari grid ke-4, Veda sempat menyodok ke posisi ketiga. Sayang, posisi itu tak bertahan lama. Perlahan tapi pasti, motornya seperti kehilangan tenaga dan terlempar ke belakang, hingga akhirnya bertahan di sekitar posisi 10. Penonton pasti bertanya-tanya, ada apa dengan Veda?
Kemudian, pada lap ke-14, race direction mengibarkan bendera merah. Balapan dihentikan. Insiden beruntun yang melibatkan beberapa pembalap menjadi alasannya. Situasi pun berubah total.
Saat restart diberangkatkan hanya tersisa lima lap Veda start dari posisi 10. Dan di sinilah keajaiban terjadi. Begitu lampu padam, dia langsung bergerak agresif. Naik ke posisi 9, lalu dengan manuver rapi menyusul Hakim Danish dari Malaysia untuk merebut posisi 8.
Yang terjadi selanjutnya benar-benar bikin terpana. Veda seperti mendapat suntikan adrenalin baru. Dengan percaya diri, dia menyalip satu per satu lawan di depannya. Lap demi lap, posisinya merangkak naik. Hingga di lap terakhir, dia berhasil menempel dan menggeser Alvaro Carpe dari Spanyol, merebut tempat podium ketiga. Aksi yang sangat impresif.
Misteri Dua Wajah Veda
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa di awal balapan dia terlihat biasa saja, tapi begitu restart justru meledak?
Jawabannya mungkin bisa kita telusuri dari catatan masa lalunya. Coba ingat balapan Red Bull Rookies Cup di Mugello, Italia, pada Juni 2025 silam. Saat itu, Veda berhasil menang dua balapan secara beruntun.
Kunci kemenangannya waktu itu adalah kesabaran. Di balapan pertama, dia sengaja tidak memaksakan diri berebut di kerumunan depan yang sangat padat dan berisiko. Alih-alih, Veda memilih untuk menjaga bannya, bahkan rela melorot hingga ke posisi 13.
Namun begitu memasuki delapan lap terakhir, strateginya terbukti. Sementara ban para rival mulai aus, ban Veda masih dalam kondisi prima. Dia pun seperti mendapat sayap, menyalip semua orang di depannya dengan relatif mudah dan akhirnya menang.
“Dia sangat cerdas membaca race. Tidak terburu-buru, tahu kapan waktunya menyerang,” begitu kira-kira pujian yang sering didengar untuknya usai balapan di Mugello.
Pelajaran dari Mugello Dibawa ke Brazil
Nah, rupanya strategi serupa coba dia terapkan di Brazil. Di balapan penuh yang direncanakan 24 lap, dia sengaja mengelola ritme. Melorot? Iya. Tapi dia tetap menjaga jarak agar tidak terlepas dari rombongan besar di depan.
Targetnya jelas: punya ban yang masih ‘hidup’ untuk serangan balik di 10 lap terakhir. Sayangnya, rencana itu buyar karena bendera merah berkibar di lap 14.
Tapi, Veda nampaknya tidak kehilangan akal. Restart yang hanya lima lap justru menjadi peluang emas. Para pesaing di depannya sudah menggunakan ban mereka lebih keras di 14 lap awal. Sementara Veda, yang lebih berhemat, punya keunggulan ban yang masih bagus.
Dengan aset itu, dia mengulangi manuver ala Mugello: menyalip dengan presisi. Sayang, waktu memang terlalu singkat. Lima lap tidak cukup untuk mengejar dua pembalap terdepan, Maximo Quiles dan Marco Morelli.
Meski begitu, podium ketiga di bawah bendera merah putih tetaplah sebuah prestasi yang gemilang. Veda Ega Pratama sekali lagi membuktikan, di balik kecepatan, yang tak kalah penting adalah kepintaran membaca situasi. Balap motor memang tak cuma soal gas pol.
Artikel Terkait
Kapal Kargo Tabrak Perahu Nelayan di Perairan Kalianda, Satu Orang Hilang
Aston Villa Wajib Menang di Kandang demi Balas Defisit atas Nottingham Forest di Semifinal Liga Europa
Korban Curanmor Diteriaki Begal saat Minta Tolong, Pelaku Mengaku Polisi
Freiburg vs Braga: Duel Sengit Perebutan Tiket Final Europa League di Europa-Park Stadion