Di Tengah Reruntuhan, Suara Pengungsi Aceh: Dari Al Quran hingga Tuntutan Keadilan

- Senin, 15 Desember 2025 | 07:20 WIB
Di Tengah Reruntuhan, Suara Pengungsi Aceh: Dari Al Quran hingga Tuntutan Keadilan

Cerita Pengungsi Aceh

✍🏻 Risman Rachman

Suaranya pelan, nyaris bergetar. Di tengah reruntuhan yang masih basah, seorang nenek di Bireuen menyampaikan permintaannya kepada sang bupati. Bukan makanan atau pakaian, melainkan sebuah Al Quran. Tapi bukan sembarang Al Quran. Ia ingin yang ada terjemahannya.

“Al Quran, Pak, yang na arti Pak. Sebab ka bulut (basah) maka jih loen lake,” ucapnya.

Allahu akbar. Dalam situasi paling sulit, yang dicari adalah pegangan hati.

Di sisi lain, permintaan lain datang dari seorang ibu. Ia sangat berharap bisa mendapat mukena dan sarung untuk shalat. “Laen ndak apa, itu aja,” katanya. Lalu, seolah teringat, ia menambahkan, “selimut kalau ada.”

Namun begitu, tidak semua permintaan bersifat pribadi. Di Bener Meriah, seorang ibu justru memikirkan orang banyak. Baginya, bantuan sembako bisa menunggu. Yang paling genting adalah membuka akses jalan yang terputus. “Jika orang tua masih bisa bertahan dengan makan apa adanya, tapi gimana dengan bayi,” ujarnya, suaranya penuh kekhawatiran. Bayi-bayi itu tak bisa menunggu lama.

Lalu ada juga amarah yang meluap. Seorang Ibu dari Pidie Jaya, yang kehilangan segalanya, menyuarakan kemarahannya dengan lantang. Bencana ini, menurutnya, bukan semata takdir. “Tolong tangkap orang-orang yang memotong pohon dan menanam sawit, siapapun. Itu zalim!” serunya. Sebuah tuntutan yang menusuk langsung ke akar masalah, setidaknya dalam pandangannya.

Di tengah semua itu, ada pula permintaan yang paling sederhana namun terasa paling berat: doa.

Seorang perempuan muda, yang sudah berjalan lima hari dari Langsa menuju Aceh Tengah, tak meminta materi. “Kami masyarakat Aceh meminta doa kepada seluruh masyarakat agar kami bisa bangkit kembali,” katanya.

Lalu ia berhenti sejenak, sebelum menegaskan, “Ini bukan berarti kami minta dikasihani.”

Sebuah permohonan yang penuh harga diri. Mereka ingin bangkit, bukan sekadar bertahan.

(")

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar