Fase keempat adalah mobilisasi sumber daya. Di titik ini, komunikasi jadi alat koordinasi yang vital. Instruksi evakuasi, titik distribusi bantuan, lokasi aman kecepatan dan kejelasan informasi bisa jadi penentu nyawa.
Terakhir, fase pelaporan dan evaluasi. Komunikasi beralih fokus pada kondisi riil pengungsi, akses logistik, kesehatan, dan kelompok rentan. Data dari lapangan ini menjadi bahan koreksi untuk sistem di masa depan.
Intinya, model Lestari menekankan bahwa komunikasi bencana itu bukan sekadar menyampaikan pesan. Ia adalah proses dua arah yang melibatkan umpan balik, koordinasi banyak pihak, dan berkesinambungan dari awal hingga pemulihan.
Apa yang Bisa Dipetik Pemerintah?
Dari kasus Aceh dan Sumatera, beberapa pelajaran penting mencuat. Pertama, data memang penting, tapi empati adalah kebutuhan pertama yang dirasakan korban. Kedua, kata-kata yang menenangkan jauh lebih efektif dan membangun daripada komunikasi yang defensif.
Ketiga, para pemimpin harus benar-benar memilih diksi. Saat warga berjuang menyelamatkan diri, setiap ucapan akan terasa sangat berat maknanya. Dan terakhir, kerangka kerja seperti milik Lestari bisa jadi panduan agar kesalahan komunikasi yang memicu kemarahan publik tidak terulang.
Pada akhirnya, mengelola komunikasi di tengah bencana adalah seni yang rumit. Ia adalah paduan antara sains, manajemen krisis, dan kepekaan manusiawi yang mendalam. Kata-kata yang tepat pada momen yang tepat, bisa menjadi "pertolongan pertama" yang menghangatkan, sebelum bantuan logistik yang sesungguhnya tiba di lokasi.
Artikel Terkait
Jenazah Wagub Sulbar Tiba di Jakarta, Akan Dimakamkan di Kalibata
Rakornas 2026: Titik Temu Pusat dan Daerah untuk Pacu Indonesia Emas 2045
Kabel Semrawut di Trotoar Karet, Warga Waswas Setiap Melintas
Nishfu Syaban: Antara Anjuran dan Penolakan Ulama