Nah, soal penciuman yang tajam inilah yang menarik. Mungkin layak dipertimbangkan untuk melibatkan mereka dalam penyelidikan. Bayangkan, gajah-gajah ini bisa membantu mengendus siapa saja manusia serakah yang merusak rumah mereka di hutan.
Usulan ini mungkin terdengar aneh. Tapi sebenarnya tidak juga. Polisi sudah lama memakai anjing pelacak untuk mencari korban di reruntuhan. Prinsipnya kurang lebih sama: memanfaatkan kepekaan indra hewan untuk kepentingan penyelidikan.
Jadi, mengapa tidak memberi kesempatan pada gajah Sumatera?
Biarkan mereka mengendus para pembalak hutan. Tentu saja, pawangnya yang akan bertindak sebagai operator. Pawang harus bisa mengarahkan gajah agar hanya mengidentifikasi pelaku, bukan marah dan membantingnya dengan belalai. Cukup dengan menyemprotkan air ludah ke orang yang terendus sebagai pembalak, itu sudah jadi tanda yang jelas.
Di sisi lain, ini bukan sekadar soal penyelidikan. Ini juga bentuk pengakuan atas jasa mereka yang selama ini menjaga hutan, sementara manusia justru merusaknya.
Artikel Terkait
Utusan AS dan Rusia Gelar Pembicaraan Rahasia di Florida, Bahas Jalan Damai Ukraina
Balita 4 Tahun di Cilacap Tewas Dibunuh dan Dilecehkan oleh Tetangga Sendiri
Serangan Udara di Gaza Tewaskan 28 Warga, Seperempatnya Anak-anak
Drama dan Kebaikan di Balik Sesaknya Gerbong KRL