Sabar dan Shalat: Resep Al-Quran Hadapi Stres Zaman Now

- Kamis, 18 Desember 2025 | 14:00 WIB
Sabar dan Shalat: Resep Al-Quran Hadapi Stres Zaman Now

Oleh: Nida Khoirunnisa


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Hidup zaman sekarang? Cepat banget. Tekanan datang dari mana-mana: tuntutan kerja, target akademis, sampai beban sosial media. Semuanya bikin lelah, kadang sampai ke titik kita bertanya, gimana sih caranya tetap bertahan? Bagaimana supaya hati nggak gampang ciut ketika segalanya terasa begitu berat?

Nah, di titik itu Al-Qur’an punya jawaban. Sederhana sih kedengarannya: sabar dan shalat. Dua hal yang udah akrab di telinga, tapi seringkali kita lewatkan begitu aja. Padahal, di baliknya ada strategi spiritual yang dalam banget untuk menghadapi ujian.

Ayat ini QS. Al-Baqarah ayat 153 nggak cuma nasihat biasa. Ia muncul sebagai petunjuk langsung. Sebuah resep konkret dari Allah untuk mengarungi badai kehidupan. Jadi, sabar dan shalat itu bukan sekadar kata-kata hiasan. Mereka adalah pilar penyangga ketahanan batin seorang mukmin.

Latar Belakang dan Kaitannya

Kalau kita lihat konteksnya, ayat ini turun berhubungan erat dengan peristiwa perubahan arah kiblat. Waktu itu, ujian iman benar-benar nyata. Siapa yang ikhlas dan siapa yang ragu, langsung ketahuan. Setelah menjelaskan hikmah di balik ujian tersebut, Allah lalu kasih “tool”-nya. Gimana caranya menghadapi? Yaitu lewat sabar dan shalat.

Kaitannya jadi jelas. Ayat-ayat sebelumnya bicara soal bentuk ujian lahiriah. Sementara ayat ini menawarkan solusi batiniah. Seolah Allah bilang, setiap kesulitan yang datang, selalu ada kunci untuk membukanya.

Mendalami Makna

Para mufassir punya penjelasan yang memperkaya pemahaman kita. Dalam Tafsir al-Tabari, misalnya, perintah meminta pertolongan dengan sabar dan salat dimaknai sebagai seruan untuk menahan diri di kala susah, tetap kuat menghadapi rasa sakit, dan terus setia menjalankan ketaatan. Al-Tabari menegaskan, orang yang sabar saat diuji akan dapat pertolongan dan rida-Nya. Kenapa? Karena sabar dan shalat itu bentuk ketaatan yang bikin kita dekat sama Allah.

Beliau juga jabarin soal frasa “Allah bersama orang yang sabar”. Ini bukan kebersamaan simbolis belaka. Tapi lebih pada pertolongan nyata, penjagaan, penguatan, dan bimbingan khusus yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang teguh.

Lalu, dalam Tafsir al-Maraghi, dijelaskan bahwa perintah itu punya makna agar kaum mukmin meminta pertolongan Allah untuk menegakkan agama, membela kebenaran, dan menghadapi kesulitan hidup. Caranya? Lewat dua jalur: sabar dan shalat. Sabar itu soal keteguhan hati, melatih diri untuk tabah. Sedangkan shalat adalah sarana yang menumbuhkan keyakinan penuh. Saat shalat, kita diingatkan akan kebesaran Tuhan. Masalah seberat apapun jadi terasa lebih kecil.

Dua hal ini disebut khusus karena mereka mewakili dua sisi manusia. Sabar mewakili amalan batin keteguhan jiwa. Shalat mewakili amalan lahir ketundukan fisik dan hati. Dalam shalat ada rasa khusyuk, ada pengakuan akan keagungan Allah.

Bagian akhir ayat, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar,” itu janji. Siapa yang ditolong Allah, nggak akan ada yang bisa mengalahkannya. Sebaliknya, orang yang hilang kesabaran, hatinya akan gelisah terus. Punya segalanya pun rasanya hampa.

Al-Qurṭubī dalam Jami’ li Ahkam al-Qur’an juga punya sudut pandang. Menurutnya, ash-shabr berarti menahan diri dan mengokohkan jiwa agar tetap teguh dalam ketaatan dan nggak goyah oleh musibah. Ash-shalah disebut khusus karena ia ibadah paling utama, sumber ketenangan. Lewat shalat, seorang mukmin ngobrol langsung dengan Allah. Beban hidup pun terasa lebih ringan.

Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir menambahkan. Hidup ini, katanya, kadang nikmatnya datang bareng cobaan. Tapi nggak ada cara yang lebih ampuh untuk hadapi cobaan dan lawan musuh selain dengan sabar dan shalat. Dalam sabar ada kekuatan jiwa. Dalam shalat ada ketenangan. Allah akan selalu menyertai orang sabar dengan pertolongan dan dukungan-Nya.

Intinya, hidup seorang hamba berputar di dua keadaan. Saat dapat nikmat, disyukuri. Saat diuji, disabari. Nggak ada keberhasilan entah urusan pribadi atau perjuangan besar yang bisa diraih tanpa kesabaran yang terjaga.

Shalat, di sisi lain, adalah inti ibadah. Tempat kita mengadu, merasakan kedekatan, dan dapatkan ketenangan. Ia jadi pelindung saat gelisah, jalan keluar saat sempit. Allah sebut sabar karena itu ujian terberat bagi jiwa. Allah sebut shalat karena itu amalan lahir yang butuh penyerahan total melepas sejenak hiruk-pikuk dunia.

Apa yang Bisa Kita Ambil?

Pertama, Allah mengakui bahwa ujian hidup itu nyata. Dia nggak suruh kita pura-pura kuat, tapi kasih cara konkret untuk menghadapinya.
Kedua, sabar itu kemampuan mental. Bukan cuma nahan emosi, tapi juga mengelolanya dan tetap berpikir jernih.
Ketiga, shalat itu ruang pemulihan. Ia mengembalikan kestabilan pikiran dan hati yang semrawut.
Keempat, janji kebersamaan Allah itu khusus untuk orang sabar. Sebuah ketenangan yang nggak bisa diganti oleh motivasi seminar mana pun.
Kelima, ayat ini sangat relevan di era sekarang. Ia tawarkan solusi untuk stres, kecemasan, dan burnout yang banyak dialami.
Terakhir, sabar dan shalat itu dua pilar kesehatan mental yang saling melengkapi. Sabar jaga emosi, shalat tenangkan jiwa.

Penutup

Jadi, Surah Al-Baqarah ayat 153 ini memberikan fondasi kokoh untuk kesehatan mental dalam Islam. Dari penafsiran para ulama, kita paham bahwa sabar itu sikap aktif, bukan pasif. Shalat itu ruang pemulihan spiritual, bukan sekadar ritual.

Ayat ini hadir tepat di tengah pembahasan soal ujian. Ia mengingatkan, kita butuh fondasi batin yang kuat untuk tetap tegak. Dengan mengamalkan sabar dan shalat secara benar, seorang mukmin bukan cuma punya ketahanan mental yang baik, tapi juga hubungan yang semakin dekat dengan Sang Pencipta.

"Penulis adalah mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Universitas PTIQ Jakarta.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar