"Sayang istriku, Nasrita Laila, aku mohon kamu keluar dari sana, Sayang. Aku mau ketemu kamu, ayo kita ketemu, Sayang."
Kalimat itu terus terulang, terucap dari bibir Marully yang penuh harap. Dia berdiri di antara puing dan lumpur, di tempat terakhir istrinya terlihat sebelum segalanya berubah. Itu terjadi di Sibolga, Sumatera Utara, ketika tanah bergerak dan hidupnya runtuh bersamaan.
Suaranya direkam oleh seorang kerabat. Lalu, video itu menyebar, salah satunya lewat akun TikTok. Kisahnya pun sampai kepada kami, dan izin untuk memberitakannya telah diberikan.
Setiap hari, tanpa henti, Marully kembali ke titik yang sama. Dia datang, berdiri, dan memanggil. Kadang, azan juga dikumandangkannya, seakan memandu langkah sang istri untuk pulang. Namun begitu, hingga Selasa lalu, Nasrita masih belum ditemukan. Nasih hilang.
Di sisi lain, pencarian terus digenjot. Tapi Marully memilih bertahan. Dia berharap, dalam kondisi apa pun, bisa bertemu kembali dengan orang yang paling dicintainya itu.
Bencana ini sebenarnya melanda sejak akhir November lalu. Longsor dan banjir bandang menghantam sejumlah wilayah Sumut, dengan Sibolga jadi yang paling menderita. Akses jalan terputus di mana-mana, membuat kota itu terisolasi cukup lama.
Dampaknya luas. Ada 18 titik lokasi yang kena, mulai dari belakang SMPN Sibolga, wilayah Sibolga Julu, Simare-mare, hingga sekitar Masjid Budi Sehati. Kawasan Tangga 100 dan Jalan Murai juga tak luput.
Hingga kini, suasana darurat masih berlaku di lapangan. Data terbaru dari BNPB per 10 Desember mencatat, korban tewas di Sibolga sudah mencapai 53 jiwa. Dua orang lainnya masih dinyatakan hilang. Angka yang menyayat hati.
Artikel Terkait
BGN Kantongi Pagu Rp270 Triliun untuk Makan Bergizi Gratis 2027, Evaluasi Penerima Manfaat Digulirkan
Pengendara Motor Nyaris Dikeroyok Massa Saat Coba Terobos Aksi Badko HMI di Makassar
Ribuan Warga Bangkalan Semarakkan Malam 1 Muharram dengan Pawai Obor dan Lampion
Seafood, Telur, dan Kacang Picu Bau Badan Akibat Gangguan Metabolisme Langka