Asap sudah sirna, tapi duka masih pekat. Kebakaran hebat yang melalap gedung Terra Drone di Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa kemarin, ternyata memakan korban yang tak sedikit: 22 nyawa melayang. Kini, proses yang menyakitkan bagi keluarga dimulai. Di Pos DVI RS Polri, Kramat Jati, suasana pagi Rabu (10/12) terasa berat dan sendu.
Sejak pukul tujuh pagi, puluhan orang keluarga, kerabat, sahabat sudah memadati posko darurat di depan gedung. Mereka menunggu. Menunggu panggilan, menunggu kepastian, menunggu kejelasan tentang orang yang mereka cintai. Ada yang duduk diam, ada yang berbisik pelan. Momen-momen haru pun tak terelakkan, terjadi begitu saja di antara kerumunan.
Beberapa keluarga saling berpelukan erat, berusaha saling menguatkan di tengah musibah yang datang tiba-tiba ini. Wajah-wajah lelah dan mata sembab terlihat jelas, bekas dari luapan kesedihan yang tak terbendung semalaman.
Seorang pria, kekasih dari korban bernama Candra, tampak tak kuasa menahan diri. Tangisnya pecah di depan Pos DVI. Ia hampir terjatuh, sebelum seorang ibu di sampingnya segera merangkul dan berusaha menenangkannya.
Artikel Terkait
Di Balik Pencabutan Izin Pasca Banjir: Wartawan Senior Pertanyakan Agenda Terselubung
Ombak Tiga Meter, Nelayan Semarang Terjepit Antara Risiko dan Isi Perut
Tegang di Selat Taiwan, PM Jepang Ingatkan Aliansi dengan AS Bisa Runtuh
Komisi Yudisial Desak Tambahan Anggaran dan Revisi UU di Hadapan DPR