Ungkapannya singkat saja, tapi terasa sangat dalam.
Nama Robert Martin sendiri bukan hal baru. Di Australia dan di kalangan aktivis internasional, ia dihormati atau kadang ditakuti karena liputannya yang blak-blakan dan konsistensi membela yang ia anggap benar. Karyanya sering kali menyoroti sisi manusiawi yang terlupakan dalam konflik yang berlarut-larut.
Maka, keputusannya untuk masuk Islam tidak serta-merta dilihat sebagai lompatan yang tak terduga. Bagi banyak pengamat dan tentu saja komunitas Muslim yang menyambutnya, langkah ini justru terasa seperti kelanjutan alami dari nilai-nilai kemanusiaan yang sudah lama ia perjuangkan. Sebuah pencarian yang akhirnya menemukan rumahnya.
Tanggapannya pun beragam. Banyak yang memberi selamat dan doa, melihat ini sebagai bentuk keimanan yang tulus. Di sisi lain, tentu saja, selalu ada yang mempertanyakan. Namun Martin tampaknya sudah mantap. Ia menemukan kedamaian dalam pilihannya, dan kini, perjalanan barunya sebagai seorang Muslim mulai ditapaki.
Artikel Terkait
Gemuruh di Tengah Hujan: Longsor Cisarua Tewaskan Puluhan Jiwa
Penampilan Jadi Tuhan Baru: Saat Penilaian Hanya Berhenti di Kulit Luar
Anggota Komcad Diamankan di Warung Padang Sambian Terkait Senjata Ilegal
Kuba Gelar Latihan Militer, Siap Hadapi Ancaman AS