Lamaran di Tengah Banjir: Kisah Cinta Wartawan dan Perawat yang Dimulai dari UGD

- Selasa, 09 Desember 2025 | 06:06 WIB
Lamaran di Tengah Banjir: Kisah Cinta Wartawan dan Perawat yang Dimulai dari UGD

Pertemuan di UGD itu benar-benar jadi awal baru buat Fitrah. Hidupnya nggak cuma soal investigasi lagi, tapi juga soal hati. Nomor Arine, si perawat, sekarang jadi yang paling sering dihubungi di ponselnya. Janji ngopi akhirnya kesampean, dan dari situ, hubungan mereka berkembang. Perlahan sih, tapi pasti. Kayak berita viral yang tiba-tiba meledak.

Kalau dunia politik yang ditinggalkan Fitrah itu keras dan penuh intrik, Arine adalah kebalikannya. Dia itu ketenangan. Bagi jiwa Fitrah yang semrawut, kehadiran Arine bagai obat penenang yang paling mujarab. Padahal sibuk ngurus nyawa orang, Arine selalu bisa nyempatin diri dengerin cerita Fitrah. Entah soal idealisme di dunia jurnalistik, atau soal trauma masa lalu yang masih nyangkut.

"Kamu terlalu keras sama diri sendiri, Fit,"

Suatu sore di kafe kecil, Arine bilang begitu. Suaranya lembut. "Nggak semua orang jahat, kok. Di sini," dia menepuk dada Fitrah pelan, "kamu punya hati yang baik."

Ucapan itu bener-bener nyampe. Buat pertama kalinya sejak skandal besar itu, Fitrah merasa ada yang ngerti. Benar-benar ngerti, tanpa prasangka. Dia akhirnya nemuin teman sejati, bukan cuma sekadar pacar.

Namun begitu, jalan mereka nggak selalu mulus. Coba aja bayangin, jadwal wartawan dan perawat itu suka kayak tabrakan beruntun. Kencan mereka sering banget kepotong. Kadang karena panggilan darurat dari rumah sakit buat Arine, atau deadline berita dadakan yang harus Fitrah kejar.

Cobaan terberat datang beberapa bulan kemudian. Banjir besar melanda kota, bikin keadaan kacau balau. Fitrah ditugasin liput posko pengungsian dan UGD yang penuh sesak. Dan di sana, di tengah kerumunan, dia nemuin Arine lagi.

Perawat itu masih pakai seragam, basah kuyup dan wajahnya lelah banget. Tapi matanya tetap tajam, penuh dedikasi.

"Arine! Kamu baik-baik saja?" Fitrah teriak, hati nya langsung dag-dig-dug.

"Aku harus bantu di sini, Fit. Pasien terus berdatangan," jawab Arine. Suaranya serak karena kecapean.

Di tengah hujan dan kepanikan itu, Fitrah melihat sesuatu. Dia lihat betapa Arine nggak kenal lelah, bolak-balik nolongin pasien, menenangkan warga. Fitrah yang udah biasa dengan beragam kasus, malah terharu. Dia lupa sebentar soal liputannya, dan memutuskan bantu Arine semampunya. Angkat air minum, tenangin anak-anak, apalah. Jadi asisten dadakan.

Malamnya, di bawah tenda pengungsian yang remang-remang, Fitrah ambil langkah. Dia berlutut.

"Arine," panggilnya, genggam tangan Arine yang dingin. "Dunia kita beda, jadwal kita berantakan, tapi hatiku cuma satu tujuannya. Kamu. Kamu kedamaian yang selama ini aku cari. Mau nggak... kita jalan bareng selamanya? Kita jadikan status ini permanen, tanpa perlu sidang uji segala!"

Arine kaget. Air matanya meleleh, campur sama rintik hujan. Siapa sangka lamaran datang di tengah bencana kayak gini?

"Ya, Fit," dia jawab sambil terkikik. "Aku mau. Asal kamu janji nggak bakal tersandung kabel laptop lagi. Itu namanya kelalaian!"

Beberapa minggu berselang, akad nikah sederhana pun digelar. Semua orang yang pernah jadi bagian dari drama hidup mereka datang.

Bos Top hadir dengan senyum paling lebar, bersalaman dengan Bu Cynthia dan kawan-kawan dari redaksi. Bang Jarwo, si wartawan yang suka cari celah, nyoba minta amplop ke panitia konsumsi. Tapi ya, dia langsung diusir dengan halus sama tim keamanan.

Di pelaminan, Fitrah Nusantara menatap istrinya, Arine Yuliana. Penuh cinta.

"Integritas itu mata uang paling berharga, Fit," bisik Bos Top sambil angkat gelas kopi. "Dan kamu nemu intan berlianmu di UGD yang kacau, bukan di gedung mewah."

Fitrah cuma bisa senyum. Aroma tinta di bajunya berbaur dengan wangi melati dan antiseptik yang masih nempel sama Arine. Babak baru hidupnya udah dimulai. Kali ini, misinya bukan cari fakta atau bongkar korupsi, tapi membangun keluarga. Bersama cinta sejati yang dia temuin di tempat yang paling nggak disangka-sangka.

(Bersambung – Ketika Integritas Diuji Bid'ah Rasa)

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar