Sudah lebih dari seminggu berlalu, tapi layanan kesehatan di timur Aceh masih terpuruk. Banjir besar yang melanda tak hanya menggenangi rumah warga, tapi juga merendam fasilitas-fasilitas kesehatan. Peralatan medis banyak yang rusak parah.
Kondisi di RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang, misalnya, benar-benar memprihatinkan. Menurut laporan, hampir semua alat kesehatan di rumah sakit itu ikut tenggelam saat banjir datang menerjang.
“Alkes di RSUD Aceh Tamiang hampir semuanya tenggelam. Kami belum tahu apakah masih bisa digunakan atau tidak,”
kata Kepala Dinas Kesehatan Aceh, Ferdiyus, dalam sebuah konferensi pers di Media Center Kemkomdigi, Aceh, Senin lalu.
Bencana yang mulai meluas sejak 26 November itu dampaknya luar biasa. Dari catatan Dinkes Aceh, 21 dari 23 kabupaten dan kota terdampak. Yang paling kritis, 54 puskesmas terpaksa berhenti beroperasi. Dua rumah sakit daerah RSUD Aceh Tamiang dan RSUD Sultan Abdul Aziz di Idi, Aceh Timur pun belum bisa melayani pasien secara normal. Kerusakan sarana dan kurangnya tenaga jadi kendala utama.
Ferdiyus bercerita, laporan pertama justru datang dari Pidie Jaya di hari-hari awal bencana. Rumah sakit setempat sempat lumpuh total, lho. Banyak tenaga kesehatannya sendiri yang jadi korban dan mengungsi. Mau tak mau, Dinkes Aceh mengirimkan sepuluh tenaga darurat untuk mengambil alih layanan kritis di sana.
“Begitu IGD dibuka kembali, tim dari USK, RSUDZA, dan RS Pidie Jaya ikut memperkuat. Kolaborasinya intens sekali,”
kenangnya.
Artikel Terkait
Jenazah Wagub Sulbar Tiba di Jakarta, Akan Dimakamkan di Kalibata
Rakornas 2026: Titik Temu Pusat dan Daerah untuk Pacu Indonesia Emas 2045
Kabel Semrawut di Trotoar Karet, Warga Waswas Setiap Melintas
Nishfu Syaban: Antara Anjuran dan Penolakan Ulama