Rumah Sakit Terendam, Layanan Kesehatan di Aceh Timur Terkapar

- Selasa, 09 Desember 2025 | 04:36 WIB
Rumah Sakit Terendam, Layanan Kesehatan di Aceh Timur Terkapar

Sudah lebih dari seminggu berlalu, tapi layanan kesehatan di timur Aceh masih terpuruk. Banjir besar yang melanda tak hanya menggenangi rumah warga, tapi juga merendam fasilitas-fasilitas kesehatan. Peralatan medis banyak yang rusak parah.

Kondisi di RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang, misalnya, benar-benar memprihatinkan. Menurut laporan, hampir semua alat kesehatan di rumah sakit itu ikut tenggelam saat banjir datang menerjang.

“Alkes di RSUD Aceh Tamiang hampir semuanya tenggelam. Kami belum tahu apakah masih bisa digunakan atau tidak,”

kata Kepala Dinas Kesehatan Aceh, Ferdiyus, dalam sebuah konferensi pers di Media Center Kemkomdigi, Aceh, Senin lalu.

Bencana yang mulai meluas sejak 26 November itu dampaknya luar biasa. Dari catatan Dinkes Aceh, 21 dari 23 kabupaten dan kota terdampak. Yang paling kritis, 54 puskesmas terpaksa berhenti beroperasi. Dua rumah sakit daerah RSUD Aceh Tamiang dan RSUD Sultan Abdul Aziz di Idi, Aceh Timur pun belum bisa melayani pasien secara normal. Kerusakan sarana dan kurangnya tenaga jadi kendala utama.

Ferdiyus bercerita, laporan pertama justru datang dari Pidie Jaya di hari-hari awal bencana. Rumah sakit setempat sempat lumpuh total, lho. Banyak tenaga kesehatannya sendiri yang jadi korban dan mengungsi. Mau tak mau, Dinkes Aceh mengirimkan sepuluh tenaga darurat untuk mengambil alih layanan kritis di sana.

“Begitu IGD dibuka kembali, tim dari USK, RSUDZA, dan RS Pidie Jaya ikut memperkuat. Kolaborasinya intens sekali,”

kenangnya.

Logistik Terjebak, Akses Terputus

Di sisi lain, masalah distribusi obat dan logistik kian pelik. Kementerian Kesehatan sebenarnya rutin mengirim Bahan Medis Habis Pakai setiap hari. Tapi nyatanya, pengiriman itu seringkali mentok di jalan. Penyebabnya klasik: jembatan putus di beberapa titik di wilayah timur. Perjalanan yang biasanya hanya beberapa jam, kini bisa makan waktu berhari-hari.

“Tenaga kesehatan yang kami kirim dari Barat Selatan butuh dua hari untuk mencapai Aceh Tamiang. Beberapa puskesmas sampai sekarang juga belum bisa dijangkau,”

keluh Ferdiyus. Untuk mengatasi keterbatasan rujukan, RS Adam Malik di Medan akhirnya mengambil alih sejumlah pasien dari Aceh Tamiang.

Kerusakan juga melumpuhkan armada ambulans. Di Aceh Tamiang saja, sekitar 27-28 ambulans milik puskesmas rusak. Sementara di Aceh Utara, angkanya mencapai 32 unit. Akibatnya, evakuasi pasien kerap dilakukan dengan cara seadanya mengandalkan kendaraan pribadi atau bantuan warga.

Menyikapi situasi ini, RSUZA Banda Aceh sudah menyiapkan skenario cadangan. Mereka berencana membuka kembali ruang isolasi COVID-19 yang pernah aktif pada periode 2020-2022. Jika terealisasi, tersedia tambahan 500 hingga 700 tempat tidur untuk pasien dari wilayah timur.

Upaya lain yang dilakukan adalah pengiriman dua box PMT tambahan untuk ibu hamil, balita, dan lansia. Bantuan dikirim lewat darat dan udara. Namun begitu, distribusi via helikopter punya kendala sendiri. Lokasi pengungsian yang tersebar dan sulit dijangkau membuat proses ini tidak selalu efektif.

“Kelompok rentan harus menjadi prioritas utama sampai akses ke wilayah timur benar-benar pulih,”

tegas Ferdiyus menutup pernyataannya. Nampaknya, jalan menuju pemulihan total masih panjang dan berliku.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar