Kunjungan ini bukan sekadar rutinitas diplomatik. Ada bobot sejarah yang kuat di baliknya. Tahun 2025 ini menandai tepat 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Pakistan. Jejak persahabatan ini diteguhkan pertama kali oleh Bung Karno pada 1950. Kini, tujuh puluh lima tahun kemudian, Prabowo hadir untuk menghidupkan dan memperkuat kembali fondasi itu.
Menurut sejumlah sumber, undangan dari PM Shehbaz Sharif ini sebenarnya sudah disampaikan dua kali sebelumnya. Pertama saat KTT D8 di Kairo, lalu lagi seusai KTT Perdamaian Gaza di Sharm El Sheikh, Mesir. Jadi, bisa dibilang kunjungan ini adalah pemenuhan janji yang ditunggu.
Bagi Indonesia, momen ini dinilai sangat strategis. Di tengah dinamika geopolitik global yang serba tidak pasti, mempererat kemitraan dengan negara sahabat seperti Pakistan adalah langkah penting. Prabowo sendiri menegaskan komitmen Indonesia untuk solidaritas dan kolaborasi yang saling menguntungkan.
Dalam penerbangan menuju Islamabad, Presiden didampingi oleh Menteri Luar Negeri Sugiono dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Kunjungan ini diharapkan bisa membuka babak baru kerja sama bilateral di berbagai bidang, dari ekonomi hingga pertahanan. Sebuah awal yang ditandai dengan gemuruh jet tempur dan harapan akan masa depan yang lebih erat.
Artikel Terkait
Anggota Komcad Diamankan di Warung Padang Sambian Terkait Senjata Ilegal
Kuba Gelar Latihan Militer, Siap Hadapi Ancaman AS
Sawah Berbisik Data: Ketika Petani dan AI Menyulam Masa Depan Pangan
Dua Polisi Gugur Tertabrak Truk TNI Saat Bertugas di Cisarua