“Total anggaran untuk bantuan dosen Rp 4.986.000.000,” tambahnya.
Selain bantuan darurat, sejumlah program jangka panjang sudah disiapkan sebagai bagian dari fase pemulihan. Rencananya, program ini akan mulai dijalankan pada Januari 2026 mendatang. Setidaknya ada tujuh poin langkah konkret yang akan diambil.
Pertama, pengadaan dapur umum di berbagai kampus di wilayah terdampak seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kedua, pengaturan jadwal Ujian Akhir Semester yang lebih fleksibel bagi mahasiswa dari keluarga korban.
Ketiga, pemberian keringanan berupa pembebasan Uang Kuliah Tunggal untuk satu hingga dua semester. Keempat, penggalangan dan pengiriman bantuan logistik mendesak seperti makanan, pakaian, hingga tenaga kesehatan melalui kampus-kampus di area bencana.
Langkah kelima adalah pembentukan tim psikososial yang akan bekerja sama dengan psikolog, BEM, dan relawan terlatih. Keenam, pemberian bantuan fasilitas untuk memulihkan proses belajar-mengajar agar kembali normal.
Terakhir, pemulihan infrastruktur pembelajaran dan sosial melalui program pengabdian masyarakat yang berdampak langsung. Semua ini diharapkan bisa sedikit meringankan beban dan mempercepat pemulihan dunia pendidikan di daerah yang luluh lantak.
Artikel Terkait
Korban Penjambretan di Sleman Berbalik Jadi Tersangka Usai Kejar Pelaku
Dahlan Iskan Ungkap Kerugian Rp2 Triliun Akibat Guncangan Harga Batu Bara
Potret Pahit Pendidikan Indonesia: Skor TKA 2025 Buka Mata dan Jurang Antardaerah
Buku Hijau di Toko Itu Membawanya Menuju Syahadat