“Tetapi melihat apa yang terjadi belakangan ini, konflik semakin melebar, dan itu membawa madharat yang lebih besar daripada manfaatnya. Maka jalan terbaik adalah mengembalikannya kepada pemerintah,” tegasnya.
Poinnya sederhana: organisasi sebesar NU harusnya menjauhi hal-hal yang berpotensi memecah belah. Kegiatan yang berisiko tinggi, apalagi sampai menimbulkan persepsi buruk di masyarakat, sebaiknya dihindari. NU adalah rumah besar, tempat bernaungnya banyak orang. Jangan sampai terseret pada urusan yang justru menimbulkan kegaduhan dan mengaburkan khittah awal berdirinya.
Di sisi lain, Kiai Said yakin betul. Kemajuan warga NU sama sekali tidak bergantung pada proyek tambang semata. Ada banyak hal lain yang jauh lebih penting dan membawa berkah.
“Keberkahan NU itu dari ketulusan, dari amanah, dari keilmuan. Bukan dari proyek tambang,” katanya.
Ia lantas mendorong fokus pada hal-hal yang lebih substantif. Pendidikan pesantren, penguatan ekonomi kerakyatan, isu kesehatan, hingga digitalisasi layanan untuk umat. Itulah, menurutnya, jalan yang lebih tepat.
Usulan ini tentu akan jadi bahan perbincangan serius di internal. Tapi pesannya jelas: menjaga marwah organisasi kadang berarti berani memilih untuk melepaskan.
Artikel Terkait
Pabrik Narkoba Sintetis di Kebon Jeruk Digerebek, Potensi Produksi 10 Kilogram
Guru Honorer yang Dulu Joget Dukung Prabowo-Gibran, Kini Galau Lihat Orang Lain Jadi ASN
Jenazah Terakhir Korban ATR 42-500 Diserahkan, Keluarga Berduka di Makassar
MUI Kritik Keterlibatan Indonesia dalam Dewan Perdamaian Gaza ala Trump