Bencana di Sumatera: 778 Tewas, Ratusan Masih Hilang, dan Ribuan Rumah Hancur

- Kamis, 04 Desember 2025 | 06:48 WIB
Bencana di Sumatera: 778 Tewas, Ratusan Masih Hilang, dan Ribuan Rumah Hancur

Angka korban bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) baru saja merilis pembaruan data yang cukup mencengangkan per Kamis (4/12). Tercatat, korban jiwa telah mencapai 778 orang. Yang membuat hati semakin berat, sebanyak 564 orang lainnya masih dinyatakan hilang dan terus dicari.

Belum lagi korban luka-luka. Dari data yang dipublikasikan BNPB, jumlah mereka yang terluka mencapai sekitar 2,6 ribu orang. Kalau dilihat dari sebarannya, Sumatera Utara mencatat korban terbanyak. Posisi berikutnya diisi Aceh, lalu Sumatera Barat.

Dampaknya benar-benar luas. Bencana banjir dan tanah longsor ini tak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menghancurkan tempat tinggal warga. Sekitar 10,4 ribu rumah dilaporkan rusak, tersebar di 51 kabupaten dan kota. Bayangkan saja, puluhan ribu keluarga kini harus memulai lagi dari nol.

Kerusakan infrastruktur pun sangat parah. Fasilitas umum yang jadi tulang punggung masyarakat banyak yang tak bisa berfungsi.

Setidaknya 354 unit fasilitas umum rusak. Gedung sekolah dan tempat belajar anak-anak juga tak luput 213 unit fasilitas pendidikan mengalami kerusakan. Bahkan rumah ibadah, yang jumlahnya 132 unit, ikut menjadi korban.

Lalu, ada 9 unit fasilitas kesehatan, 100 gedung perkantoran, dan yang cukup vital: 295 jembatan. Rusaknya jembatan ini tentu menyulitkan akses logistik dan evakuasi.

Di tengah situasi suram ini, bantuan terus mengalir. Menurut catatan BNPB, beberapa bentuk bantuan yang sudah didistribusikan antara lain ribuan paket sembako, tepatnya 4,4 ribu paket. Untuk menjaga komunikasi, puluhan unit Starlink sebanyak 49 unit telah dipasang.

Bantuan lain yang tak kalah penting termasuk 1,1 ribu matras, 67 koli pakaian layak pakai, serta 40 unit tenda pengungsian. Bantuan-bantuan ini tentu hanya secercah harapan di tengah pekerjaan besar pemulihan yang masih sangat panjang.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar