Mahfud MD Ingatkan NU: Jangan Sampai Jadi Perusahaan Terbatas

- Rabu, 03 Desember 2025 | 10:50 WIB
Mahfud MD Ingatkan NU: Jangan Sampai Jadi Perusahaan Terbatas

Dinamika Internal NU Disoroti Lagi oleh Mahfud MD

Suasana di tubuh Nahdlatul Ulama belakangan ini memang tidak tenang. Mahfud MD, mantan Menko Polhukam, kembali angkat bicara. Kali ini, ia menyoroti memanasnya dinamika di organisasi Islam terbesar di Indonesia itu. Menurutnya, sudah saatnya NU kembali ke khittah-nya.

Intinya, Mahfud ingin NU fokus pada tradisi utamanya: menyiapkan kader bangsa. Jangan sampai terjebak dalam politik praktis atau, yang lebih ia khawatirkan, tarik-menarik kepentingan ekonomi. Ia melihat persoalan tambang, misalnya, telah menjadi akar konflik yang merusak.

"NU harus tetap mencetak kader bangsa seperti yang telah dilakukan melahirkan banyak ahli, profesor, doktor di berbagai bidang, politisi besar, dicetak di situ," ujarnya.

Tapi, lanjutnya, organisasinya sendiri jangan ikut larut. "Tapi jangan NU-nya ikut ke situ, tetap menyiapkan kader aja sehingga NU bisa menyumbang bagi kelangsungan republik ini tetap dengan tradisinya. Tradisi di mana kiai itu dihormati betul."

Pernyataan itu ia sampaikan di kanal YouTube resminya, Selasa lalu.

Di sisi lain, Mahfud teringat pada sebuah pertemuan. Beberapa waktu lalu, para kiai sempat berkumpul di Ploso dipimpin Kiai Huda Jazuli. Tokoh yang disebutnya mencintai NU tanpa memihak kelompok mana pun. Pesan dari pertemuan itu sederhana tapi dalam: selesaikan konflik dengan kepala dingin.

"Kiai berkumpul di Ploso memberi nasihat agar diselesaikan secara baik-baik. Jangan saling ngomong, saling serang di media," kata Mahfud menirukan pesan itu.

Ia pun bernostalgia. Dulu, kata Mahfud, wibawa kiai begitu tinggi. Saat tokoh karismatik seperti Kiai As'ad, Kiai Ali Maksum, atau Kiai Ahmad Siddiq berbicara, semuanya diam mendengarkan. Tidak ada yang membantah. Suasana itu yang kini ia rasa telah berubah.

"Sekarang ini ngomong, malah yang ngomong yang dihantam balik," tuturnya dengan nada prihatin. Menurutnya, NU harus kembali ke situ. Kalau tidak, ya cuma jadi kenangan. "Ya menurut saya NU harus kembali ke situ. Kalau nggak ya jadi mumi saja," tegas pria asal Madura itu.

Kritiknya semakin tajam. Mahfud memperingatkan bahaya besar jika NU terus terseret dalam perebutan kepentingan ekonomi, terutama tambang. Jati diri organisasi yang selama ini dibangun bisa luntur begitu saja.

"Jadi mumi silakan saja rebutan tuh tambang, nggak ada gunanya," serunya tanpa tedeng aling-aling.

Ia bahkan menyindir keras. Bila orientasi organisasi bergeser dari keagamaan ke ekonomi, maka bukan lagi PBNU yang kita lihat. Bisa-bisa berubah wujud.

"Jadi bukan PBNU, PTNU akhirnya perusahaan terbatas, masa kita mau kayak gitu?" ujarnya. "Rugi dong NU terlalu besar untuk dikorbankan dengan hal-hal kayak gini."

Pernyataan Mahfud ini bukan yang pertama. Tapi, ia menambah panjang daftar suara prihatin dari dalam internal sendiri. Banyak tokoh Nahdliyin lain yang juga resah, khawatir melihat eskalasi konflik dan potensi keterlibatan NU yang terlalu dalam dalam pusaran politik dan bisnis.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar