Banjir Sumatera dan Topeng Senyum di Balik Hutan yang Tergerus

- Rabu, 03 Desember 2025 | 08:20 WIB
Banjir Sumatera dan Topeng Senyum di Balik Hutan yang Tergerus

Pemerintah memutuskan untuk tidak menetapkan status bencana nasional atas banjir di Sumatera. Keputusan ini, tentu saja, memantik banyak tanya. Ada apa sebenarnya?

Menurut sejumlah pengamat, alasan di baliknya mungkin lebih kelam. Jika status bencana nasional ditetapkan, sorotan internasional akan mengarah ke pulau itu. Dan yang akan terlihat jelas adalah bagaimana sumber daya alam Sumatera dikeruk habis-habisan, lalu ditinggalkan dalam keadaan rusak. Mungkin, ini cara agar dunia tidak melihat kekejian sistem yang dibiarkan berjalan.

"Apa perlu bencana itu melanda anda sekeluarga, Pak? Baru ditetapkan sebagai bencana nasional?"

Pertanyaan retoris itu menggigit. Lalu, siapa yang harus bertanggung jawab? Penulis dengan berani menyebut nama: Zulkifli Hasan. Masa jabatannya di Kementerian Kehutanan disebut-sebut bertepatan dengan maraknya izin pelepasan kawasan hutan. Izin-izin yang diduga menjadi pemicu utama kerentanan daerah itu terhadap banjir.

Sekarang, akun media sosialnya ramai-ramai diminta ditutup komentarnya. Tapi penulis mengaku tidak takut. "Gue nggak takut nyebut nama karena udah muak," tulisnya. Muak melihat pejabat tersenyum manis saat bagi-bagi sembako atau menghadiri panen raya, memakai topeng kesopanan. Di balik senyum itu, kata dia, tersimpan niat yang membiarkan hutan Sumatera digilas oleh truk-truk tambang.

Yang paling memilukan, dan sulit dicerna akal sehat, adalah bagaimana bangsa ini seolah memberi karpet merah pada para pejabat tersebut. Izin-izin berakibat fatal itu terus saja dikeluarkan, seakan kerusakan alam bukanlah harga yang harus dibayar.

Maka, bencana di Sumatera ini bukanlah sekadar musibah alam biasa. Lebih dari itu, ia adalah sebuah "rencana". Koreksi jika saya salah. Buktinya? Kayu gelondongan yang hanyut deras di sungai-sungai yang meluap itu adalah saksi bisunya.

Mungkin itulah alasan sesungguhnya. Coba perhatikan, pemberitaan media lebih ramai membahas skandal artis atau hal receh seperti tumbler hilang. Semuanya seakan dikelola untuk mengalihkan perhatian publik dari persoalan sebesar ini.

Seperti yang diungkapkan seorang netizen dalam cuitan yang viral: "Gw suka ulasannya, berani sebut nama."

Ungkapan itu mewakili rasa frustasi banyak orang. Suara yang menuntut kejelasan dan pertanggungjawaban, di tengah banjir yang tak hanya membawa air, tetapi juga segala persoalan lama yang tak kunjung usai.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar