Pada Selasa pagi (20/1), suara mesin berat menggerus kesunyian di Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur. Sebuah bangunan milik UNRWA, badan PBB untuk pengungsi Palestina, rata dengan tanah. Aksi penghancuran itu dilakukan oleh tentara Israel menggunakan buldoser.
Padahal, gedung itu sudah mereka kuasai sejak tahun lalu. Tapi anehnya, bangunannya dibiarkan begitu saja. Kosong. Tak dimanfaatkan untuk apa-apa selama diduduki.
Menurut sejumlah saksi di lapangan, termasuk jubir UNRWA Jonathan Fowler, serbuan dimulai sekitar pukul tujuh pagi waktu setempat. Pasukan datang, mengusir penjaga yang ada di lokasi, lalu membawa masuk alat berat itu. Prosesnya berlangsung cepat.
Reaksi dari PBB pun tak lama datang.
"Sekjen PBB meminta pemerintah Israel untuk menghentikan proses perobohan bangunan UNRWA di Sheikh Jarrah, lalu mengembalikan bangunan UNRWA kepada PBB tanpa ada penundaan,"
kata Farhan Haq, wakil jubir PBB, sehari setelah kejadian.
Di sisi lain, kepala UNRWA Philippe Lazzarini bersikap lebih tegas. Ia menilai aksi ini bukan sekedar pengambilalihan, tapi sebuah pelanggaran hukum internasional yang disengaja. Sebuah klaim yang pasti akan memicu perdebatan panjang lagi.
Faktanya, bangunan itu kini sudah jadi puing. Tinggal kenangan. Dan seperti biasa, di tanah yang terus memanas ini, setiap puing punya cerita dan konsekuensinya sendiri.
Artikel Terkait
Polri-FBI Bongkar Sindikat Phishing Global, Kerugian Capai Rp350 Miliar
Pelaku Tabrak Lari Tewaskan Pengacara di Cianjur Ditangkap di Bogor
Chelsea Pecat Liam Rosenior Usai Hanya Tiga Bulan Melatih
Guru Besar Unhan Tegaskan Modernisasi Pertahanan Indonesia Sudah Jadi Kebutuhan Mutlak