Rencana Gaza Trump Picu Ancaman Mundur dari Kabinet Netanyahu

- Selasa, 27 Januari 2026 | 08:15 WIB
Rencana Gaza Trump Picu Ancaman Mundur dari Kabinet Netanyahu

TEL AVIV Inisiatif perdamaian Gaza yang digagas Presiden AS Donald Trump ternyata memicu badai politik di dalam negeri Israel sendiri. Tak tanggung-tanggung, ancaman keluar dari kabinet pun dilontarkan oleh salah satu menteri Netanyahu.

Orit Strock, Menteri Urusan Permukiman, tak menyembunyikan kemarahannya. Dalam sebuah wawancara radio dengan Galey Israel, dia menyebut rencana pembentukan Dewan Perdamaian Gaza itu cacat dan berbahaya. Bagi Strock yang berasal dari sayap kanan radikal, mengorbankan nyawa tentara Israel untuk sebuah skema internasional yang dianggapnya utopis adalah langkah yang tak bisa diterima.

“Kita tidak seharusnya membahayakan tentara sendiri untuk rencana buruk ini,” tegasnya.

“Jika pemerintah terus berjalan ke arah ini, saya mungkin harus meninggalkan pemerintahan.”

Pernyataannya itu, yang dikutip Selasa lalu, jelas bukan angin lalu. Ini adalah sinyal keras adanya retakan di internal pemerintahan Netanyahu, yang justru telah menyetujui inisiatif Trump tersebut. Ketegangan itu nyata dan terbuka.

Inti penolakan Strock sederhana sekaligus absolut: Gaza tidak boleh diserahkan kepada siapa pun selain Israel. Dia mempertanyakan dengan nada sinis, apa yang akan terjadi setelah perang usai. Bahkan jika Israel menduduki Gaza lagi, lalu mau diberikan ke siapa?

“Kepada Otoritas Palestina? Kita sudah melakukan itu pada 2005 dan lihat hasilnya,” ujarnya, menyitir rencana pelepasan sepihak di era Ariel Sharon yang bagi banyak kalangan sayap kanan merupakan contoh kegagalan telak.

Bagi Strock, jalan satu-satunya adalah Israel harus tetap menjadi penguasa tunggal di Gaza setelah Hamas dilucuti. Gagasan tentang penyerahan kendali kepada komite teknokrat Palestina pun dia tolak mentah-mentah.

“Saya tidak bisa membayangkan seorang menteri di Kabinet Keamanan yang memilih mengirim tentara berperang, lalu menyerahkan Gaza kepada Ali Shaath dan komite teknokrat Palestina,” katanya.

Jadi, situasinya runyam. Di satu sisi, Netanyahu sudah berkomitmen pada rencana internasional. Di sisi lain, tekanan dari dalam, dari sekutunya sendiri yang paling keras, semakin menguat dan mengancam stabilitas koalisinya. Perdamaian Gaza, tampaknya, harus melalui medan politik Israel yang tak kalah berbahayanya terlebih dahulu.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar