Kapolda Aceh Tempuh Lima Hari dan Naik Perahu Demi Tinjau Banjir Tamiang

- Selasa, 02 Desember 2025 | 14:00 WIB
Kapolda Aceh Tempuh Lima Hari dan Naik Perahu Demi Tinjau Banjir Tamiang

Wilayah Aceh Tamiang masih terisolasi. Pasca banjir bandang dan longsor yang menghantam, bantuan untuk warga di sana konon masih sulit terjangkau. Situasinya benar-benar memprihatinkan.

Untuk melihat langsung kondisi itu, Kapolda Aceh, Irjen Marzuki Ali Basyah, nekat melakukan perjalanan darat. Bersama pejabat utama Polda, ia menuju ke lokasi bencana. Perjalanan yang ditempuh bukan main-main butuh lima hari penuh. Jalannya nyaris tak bisa disebut jalan lagi; terputus, terendam, dan tertutup lumpur pekat di mana-mana.

Di beberapa titik, rombongan itu bahkan harus naik perahu. Jalan raya yang dulu mereka lewati, kini sudah berubah jadi aliran sungai yang deras. Mereka juga harus menerobos jalur yang berubah menjadi sungai lumpur, dengan ancaman longsor dan arus ganas yang siap menerkam kapan saja.

“Saya harus tiba di Tamiang. Saya ingin melihat langsung kondisi saudara-saudara kita yang sedang berjuang menghadapi musibah ini,” tegas Marzuki dalam keterangannya, Selasa (2/12).

“Selain itu, saya juga perlu mengecek langsung kondisi mako serta memastikan kesiapan personel. Penanganan harus cepat, tepat, dan terkoordinasi,” tambahnya.

Sesampainya di tempat, Ali langsung bergerak cepat. Instruksi darurat ia keluarkan untuk seluruh jajarannya. Prioritas utamanya jelas: percepat evakuasi, terutama untuk kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan perempuan. Pendataan korban dan kerusakan juga harus dipercepat, begitu pula dengan pengiriman logistik mendesak. Birokrasi dan kendala lapangan tak boleh lagi jadi penghalang.

“Banjir ini bukan hanya menguji ketahanan infrastruktur, tetapi juga mengguncang solidaritas kemanusiaan kita,” ujar Ali.

“Setiap warga harus mendapatkan perlindungan. Setiap keluarga harus tersentuh bantuan. Tidak boleh ada satu pun yang terabaikan,” tegasnya.

90 Persen Terendam, Aktivitas Lumpuh

Dari peninjauannya bersama Bupati Aceh Tamiang Armia Fahmi dan Kapolres setempat, gambaran yang muncul suram. Sekitar 90 persen wilayah kabupaten itu terendam banjir. Aktivitas sosial dan ekonomi lumpuh total. Parahnya, kantor-kantor vital seperti pemerintahan daerah, Kodim, hingga Polres ikut terdampak.

Menyikapi kondisi darurat ini, Ali tak menunggu lama. Ia segera mengajukan permintaan bantuan tambahan ke Mabes Polri. Ia minta dikirimkan pasukan recovery dan yang paling krusial: helikopter angkut. Alat itu dibutuhkan untuk mendistribusikan makanan dan obat-obatan ke daerah terpencil yang sama sekali tak bisa dijangkau lewat darat.

“Seluruh aktivitas ekonomi berhenti. Tidak ada pedagang, tidak ada pelayanan kebutuhan dasar, dan banyak wilayah benar-benar terputus,” papar Ali dengan nada prihatin.

“Kita membutuhkan dukungan pusat agar penanganan bencana ini dapat dilakukan secepat mungkin. Fokus kita satu: menyelamatkan masyarakat.”

Kapolda Aceh menegaskan komitmennya. Polri akan berada di garda terdepan, bersinergi penuh dengan pemerintah daerah dan TNI. Tujuannya cuma satu: memastikan Aceh Tamiang bisa segera bangkit dari keterpurukan ini.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar