Kekhusyukan: Rahasia Pahala Sholat yang Tak Sama di Mata Allah

- Jumat, 16 Januari 2026 | 15:00 WIB
Kekhusyukan: Rahasia Pahala Sholat yang Tak Sama di Mata Allah
Nilai Sholat di Mata Allah

Nilai Sholat Seorang Hamba di Mata Allah

Oleh: Ustadz Mohammad Rosyad

Pahala sholat kita itu, ternyata, sangat bergantung pada satu hal: seberapa besar kita ingat kepada Allah saat menjalankannya. Seberapa dalam kita menghayati setiap ucapan dan gerakan. Inilah yang disebut khusyu'. Tanpanya, sholat bisa jadi tak bermakna.

Sahabat Nabi, Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu, pernah menyampaikan hal yang cukup menusuk:

لاَ يُكْتَبُ لِلرَّجُلِ مِنْ صَلاَتِهِ مَا سَهَا عَنْهُ

"Tidaklah dicatat (sebagai pahala) dalam shalat seseorang ketika ia lalai." (diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam az-Zuhud no riwayat 1300).

Memang, secara fiqh, khusyu' bukan rukun sholat. Kalau tidak khusyu', sholatnya tetap sah. Kewajiban sudah gugur. Tapi, para ulama sepakat soal satu hal: khusyu’ itu ibarat ruh dalam jasad. Sholat tanpa kekhusyuan bagai tubuh tak bernyawa.

Lalu, apa sebenarnya khusyu' itu? Ia adalah pemusatan hati untuk merasakan keagungan Allah, disertai kerendahan diri yang mendalam. Ini karakter orang beriman sejati. Allah sendiri berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ . الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya." (Al-Mukminun: 1-2).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan menggambarkan dengan sangat detail tentang bagaimana pahala sholat itu bisa berbeda-beda kadarnya.

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَنْصَرِفُ مِنْ صَلاَتِهِ وَلَمْ يُكْتَبْ لَهُ مِنْهَا إِلاَّ نِصْفُهَا إِلاَّ ثُلُثُهَا إِلاَّ رُبُعُهَا إِلاَّ خُمُسُهَا إِلاَّ سُدُسُهَا إِلاَّ سُبُعُهَا إِلاَّ ثُمُنُها إِلاَّ تُسُعُهَا إِلاَّ عُشُرُهَا

"Sesungguhnya bila seorang hamba telah selesai dari shalatnya, maka tidak ditetapkan balasan dari shalatnya kecuali ada yang mendapat setengahnya, ada yang mendapat sepertiganya, ada yang mendapat seperempatnya... hingga sepersepuluhnya." (H.R Sunan Nasai, Abu Dawud).

Gradasi ini bukan soal rukun yang kurang, lho. Kalau rukunnya kurang, ya tidak sah. Ini murni tentang kekhusyuan. Dan dampaknya luar biasa.

Orang yang bisa khusyu', jiwanya akan bersih. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membuat perumpamaan yang indah:

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ قَالُوا لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ قَالَ فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا

“Apa pendapat kalian, seandainya ada sungai di depan pintu salah seorang dari kalian, dia mandi disungai itu lima kali sehari; apakah ada kotoran yang tersisa?” Mereka menjawab,”Tidak akan ada kotoran yang tersisa sedikitpun.” Nabi berkata,”Demikianlah permisalan shalat lima waktu. Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan dengan sebab shalat.” [HR Muslim]

Jiwa yang bersih inilah yang kemudian punya kekuatan untuk menahan diri. Menjauhi perbuatan keji (fakhsya) yang merusak diri sendiri, dan mencegah kemungkaran yang merugikan orang lain. Allah berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." [QS Al-Ankabut: 45]

Lantas, bagaimana caranya? Kuncinya ada di niat. Niat yang kuat untuk khusyu' harus terus kita pupuk. Jangan bosan memohon, iringi dengan istighfar setiap kali hati terasa lalai. Ada doa khusus yang bisa kita panjatkan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لا تَشْبَعُ وَمِنْ عَمَلٍ لاَ يُتَقَبَّلُ وَمِنْ دُعَاءٍ لاَ يُسْمَعُ اِلَهَنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا فَقَدْ اَمَرْتَنَا فَتَرَكْنَا وَنَهَيْتَنَا فَارْتَكَبْنَا فَلَا يَسَعُنَا اِلَّا عَفْوُكَ اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ اَعْمَالَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا وَامْنَحْنَا اْلخَشْيَة َوَاْلخُشُوْعَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

"Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak kenyang, dari amal yang tidak diterima dan dari doa yang tidak dikabulkan... Ya Allah, terimalah amal-amal kami dan sempurnakanlah apa yang kurang dari kami serta anugerahilah kami rasa takut dan khusyuk terhadap-Mu..."

Nah, untuk melatihnya, kita bisa belajar dari seorang ulama, Imam Abu Hatim (wafat 237 H). Suatu ketika beliau ditanya, bagaimana cara beliau sholat?

Jawabannya menggetarkan. Sebelum takbir, beliau membayangkan beberapa hal dalam benaknya:

Pertama, bahwa dia sedang berhadapan langsung dengan Allah, Dzat Maha Agung. Kedua, surga seolah di sebelah kanannya. Ketiga, neraka di sebelah kirinya. Keempat, malaikat maut ada di atas kepala, siap mencabut nyawa. Kelima, dia merasa seperti berdiri di atas titian Shirathal Mustaqim, satu salah langkah bisa celaka. Dan keenam, dia menganggap sholat yang akan dilakukannya ini adalah sholat terakhir dalam hidupnya.

Baru setelah itu, dengan kondisi hati seperti itu, beliau berniat dan bertakbir.

Imam Abu Hatim melanjutkan, "Setiap bacaan dari doa di dalam shalat, aku pahami maknanya kemudian aku rukuk dan sujud dengan tawadhu. Aku bertasyahud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas."

Semoga kita semua dimudahkan untuk meraih kekhusyuan dalam sholat. Wallahul muwaffiq ilaa aqwamith thoriiq.

Mohammad Rosyad.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar