Alasannya? Beliau ingat betul janji Rasulullah bahwa siapa yang melangkah untuk berjihad di jalan Allah, neraka diharamkan untuknya. Tapi, justru karena kesempatan yang mulia ini, Abu Bakar merasa tanggung jawabnya sebagai pemimpin semakin besar. Beliau tidak ingin kesempatan itu disia-siakan dengan tindakan yang merusak.
Maka, sebelum pasukan benar-benar berangkat, Abu Bakar menyampaikan wasiat yang sangat terkenal. Wasiat itu seperti pedoman etika perang yang sangat modern.
Bayangkan. Di tengah panasnya peperangan, ada perintah untuk melindungi pohon yang berbuah dan hewan ternak. Ini menunjukkan bahwa perang dalam Islam bukan untuk menghancurkan segalanya, tapi untuk menegakkan keadilan dengan tetap menjaga kemanusiaan dan lingkungan.
Nah, kalau dalam keadaan perang saja merusak lingkungan dilarang keras, apalagi dalam keadaan damai? Jelas, tindakan seperti membakar hutan, menebang pohon secara serampangan, atau mencemari lingkungan sama sekali tidak punya tempat dalam ajaran Nabi.
Jadi, menjaga pohon dan hutan itu bukan sekadar program pemerintah atau aktivis lingkungan. Bagi seorang muslim, itu adalah perintah agama. Sebuah bentuk ketaatan yang nyata. Wallahu a’lam.
Artikel Terkait
Pemprov Sulsel Salurkan Bantuan untuk Korban Angin Puting Beliung di Takalar
Pengendara Motor Tewas Tabrak Truk yang Berhenti di Jalan Wates-Purworejo
Pemerintah Pastikan Kondisi Pekerja Migran Indonesia di Timur Tengah Masih Aman
Saksi Ungkap Harga Chromebook di Bawah Pasar, Kerugian Negara Dipertanyakan