Di sisi lain, Muslim juga menyoroti temuan Walhi Sumut. Lembaga itu sebelumnya mengungkap kerusakan serius di hutan penyangga daerah terdampak. Ada dugaan pembukaan lahan besar-besaran, termasuk oleh perusahaan seperti PT Toba Pulp Lestari di Tapanuli. Akibatnya? Daya serap tanah melemah drastis. Air hujan yang turun tak lagi bisa ditahan, langsung mengalir deras menghantam permukiman.
Kerusakan yang meluas ini, ujarnya, berujung pada penderitaan ribuan orang. Korban banjir yang berjatuhan adalah bukti nyata bahwa ekosistem penyangga sudah tak berfungsi.
"Rakyat menjadi korban dari kerusakan yang semestinya bisa dicegah. Mereka yang punya kewenangan sudah seharusnya bertanggung jawab,"
tegas Muslim lagi.
Desakan untuk mengusut tuntas pun kian keras. Masyarakat meminta pemerintah, khususnya Menteri Kehutanan, menelusuri asal-usul kayu gelondongan yang ikut hanyut saat banjir. Temuan itu bagi banyak orang adalah petunjuk jelas. Eksplorasi hutan di Sumatera, rupanya, masih berjalan masif di balik hiruk-pikuk janji pelestarian.
Artikel Terkait
Lima Tersangka, Termasuk Mantan Anggota DPR, Ditahan dalam Kasus Korupsi Dana Irigasi Luwu
Mentan Pastikan Stok Beras Nasional Aman untuk 10,8 Bulan ke Depan
Kompolnas Pastikan Remaja Tewas di Makassar Akibat Tembakan Polisi
Pagar Proyek Sekolah Rakyat di Takalar Roboh, Diduga Akibat Pondasi Lemah