Pahlawan Berjas Hujan: Antara Panggung Bencana dan Solusi Nyata

- Senin, 01 Desember 2025 | 16:00 WIB
Pahlawan Berjas Hujan: Antara Panggung Bencana dan Solusi Nyata
Penjual Payung di Tengah Banjir

Penjual Payung yang Berusaha Hentikan Hujan

Oleh: Wahyu Ari Wicaksono, Storyteller

Coba bayangkan adegan ini. Sebuah desa yang terendam, lumpur di mana-mana. Di tengah genangan air keruh itu, berdiri seorang pria. Bajunya putih bersih, masih rapi. Wajahnya berkerut penuh konsentrasi sambil mengangkat sekarung beras. Kameramen mengitari, merekam setiap gerak. Lalu ia melangkah, masuk ke banjir. Air menyentuh kulitnya. Ekspresinya tetap gagah.

Pertunjukan belas kasih. Mungkin itulah sebutan yang pas. Drama bantuan.

Sebenarnya, kita semua rindu akan keaslian. Ada getar haru saat melihat pemimpin mau berkubang lumpur bersama rakyatnya. Air mata pun mudah tumpah. Itu seperti pesan universal: "Aku di sini, merasakan yang kau rasakan." Sebuah metafora kuat tentang jembatan antara kekuasaan dan kenyataan pahit di lapangan.

Tapi bagaimana kalau metafora itu cuma ilusi?

Yang kita lihat bukan jembatan, melainkan pelangi buatan. Cantik, memikat. Coba diinjak, ia akan lenyap. Tak ada emas di ujungnya, cuma langit kosong yang sama.

Orang-orang tua dulu sering mengingatkan, "Jangan minta hentikan hujan pada penjual payung." Nasihat itu sederhana: jangan berharap solusi dari pihak yang justru diuntungkan oleh masalahmu.

Sekarang, paradoksnya lebih pahit. Sang Penjual Payung itu sendiri yang turun ke banjir. Payung masih dipegang, tapi ia berpose bak dewa penolong. Ia basah sebentar, berfoto, lalu kembali ke mobil keringnya. Padahal, hujan yang menyebabkan banjir ini kebijakan salah, penggundulan hutan, gorong-gorong mampet seringkali adalah buah dari keputusan yang ia buat atau biarkan.

Inikah satir kehidupan? Kita bertepuk tangan melihat pembagian beras, tapi lupa bahwa izin perampasan lahan ditandatangani olehnya. Kita terharu ia mengepel lantai, namun melupakan bahwa dana pelestarian hutan dialihkan untuk proyek pencitraan.

Maka pertanyaannya bukan lagi "Apakah pemimpin ini peduli?" Tapi, "Peduli yang mana yang bertahan? Yang terekam di layar, atau yang tertuang dalam kebijakan nyata?"

Air mata di lokasi bencana mengering lebih cepat daripada air banjir. Yang tertinggal cuma dokumen: anggaran, peraturan, program kerja. Kalau di dokumen itu tak ada bekas peluh yang sama, maka heroisme di lapangan cuma topeng. Tipis dan palsu.

Mungkin terdengar getir, tapi masyarakat mungkin lebih menghargai pemimpin yang jujur. Yang di belakang meja saja, lalu berkata, "Aku tidak pandai akting. Tapi tanggul ini telah kubangun, data ini kupelajari, agar banjir tak datang lagi." Itu lebih terhormat ketimbang senyum yang dibasuh lumpur palsu.

Kita butuh sutradara, bukan aktor. Butuh orang yang mampu menulis naskah panjang untuk perubahan, mengatur panggung dari hulu ke hilir, agar tragedi ini berhenti berulang.

Banjir akan surut. Foto-foto memudar di linimasa. Yang tersisa nanti: apakah setelah lampu sorot padam, masih ada yang diam-diam kembali, membenahi gorong-gorong, berbisik pada angin, "Jangan biarkan air mata mereka tumpah lagi."

Atau, yang tertinggal cuma karung kosong dan sepatu boots berlumpur yang disimpan rapi, menunggu panggung bencana berikutnya?

Hati-hati dengan pahlawan berjas hujan. Tanyakan baik-baik: ia datang untuk hentikan hujan, atau cuma jualan payung? Tabik.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar