Penjual Payung yang Berusaha Hentikan Hujan
Oleh: Wahyu Ari Wicaksono, Storyteller
Coba bayangkan adegan ini. Sebuah desa yang terendam, lumpur di mana-mana. Di tengah genangan air keruh itu, berdiri seorang pria. Bajunya putih bersih, masih rapi. Wajahnya berkerut penuh konsentrasi sambil mengangkat sekarung beras. Kameramen mengitari, merekam setiap gerak. Lalu ia melangkah, masuk ke banjir. Air menyentuh kulitnya. Ekspresinya tetap gagah.
Pertunjukan belas kasih. Mungkin itulah sebutan yang pas. Drama bantuan.
Sebenarnya, kita semua rindu akan keaslian. Ada getar haru saat melihat pemimpin mau berkubang lumpur bersama rakyatnya. Air mata pun mudah tumpah. Itu seperti pesan universal: "Aku di sini, merasakan yang kau rasakan." Sebuah metafora kuat tentang jembatan antara kekuasaan dan kenyataan pahit di lapangan.
Tapi bagaimana kalau metafora itu cuma ilusi?
Yang kita lihat bukan jembatan, melainkan pelangi buatan. Cantik, memikat. Coba diinjak, ia akan lenyap. Tak ada emas di ujungnya, cuma langit kosong yang sama.
Orang-orang tua dulu sering mengingatkan, "Jangan minta hentikan hujan pada penjual payung." Nasihat itu sederhana: jangan berharap solusi dari pihak yang justru diuntungkan oleh masalahmu.
Sekarang, paradoksnya lebih pahit. Sang Penjual Payung itu sendiri yang turun ke banjir. Payung masih dipegang, tapi ia berpose bak dewa penolong. Ia basah sebentar, berfoto, lalu kembali ke mobil keringnya. Padahal, hujan yang menyebabkan banjir ini kebijakan salah, penggundulan hutan, gorong-gorong mampet seringkali adalah buah dari keputusan yang ia buat atau biarkan.
Artikel Terkait
Tito Karnavian Targetkan Sumatera Barat Pulih Total Sebelum Ramadan 2026
Warga Katulampa Geruduk Kafe yang Diduga Jual Miras, Satpol PP Turun Tangan
Prabowo Tinjau IKN, Komitmen Lanjutkan Ibu Kota Baru Diuji
Jaga Hoki di Imlek 2026: Ini Pantangan yang Dipercaya Bisa Usir Rezeki