Tekanan hidup itu nyata. Kadang, ia menyeret seorang Ayah ke lorong-lorong gelap yang tak pernah ia impikan. Ada yang tergelincir. Mengambil yang bukan haknya, jadi koruptor, menipu, atau bahkan dalam kasus yang memilukan membongkar celengan masjid. Tujuannya seringkali sederhana sekaligus rumit: memastikan keluarganya tetap makan dan bisa bertahan hidup. Hasil jerih payahnya yang kelam dinikmati oleh semua orang di rumah. Tapi risikonya? Dia tanggung sendirian. Dipenjara, dihina, dipukuli, bahkan ada yang sampai dibakar hidup-hidup. Bagi mereka, anak dan keluarga tetaplah yang nomor satu, melebihi segalanya.
Dan ini yang lebih menyayat hati. Dalam “Kamus Breng-sex”, Ayah diartikan sebagai seseorang yang harus punya uang, tidak mau tahu dari mana asalnya. Nilainya kerap diukur dari angka di rekening, bukan dari air mata yang diam-diam ia keringkan. Tapi, betapa pun beratnya, Ayah tetap melangkah. Dia terus memikul langit agar tak runtuh menimpa kepala orang-orang yang dicintainya.
Child…
You don't know, you'd never known
How far they'd gone
If they must to see you live
Artikel Terkait
Target Zero Accident MBG 2026 Terganjal 1.242 Kasus Keracunan di Januari
Ijazah Jokowi dan Ujian Terakhir Kerahasiaan Publik
Haji Isam Pacu Hilirisasi, Jhonlin Group Garap Baterai Nikel di KEK Setangga
Opini Publik Barat Berbalik: Dukungan AS untuk Israel Mencatat Titik Terendah Sejarah