Tekanan hidup itu nyata. Kadang, ia menyeret seorang Ayah ke lorong-lorong gelap yang tak pernah ia impikan. Ada yang tergelincir. Mengambil yang bukan haknya, jadi koruptor, menipu, atau bahkan dalam kasus yang memilukan membongkar celengan masjid. Tujuannya seringkali sederhana sekaligus rumit: memastikan keluarganya tetap makan dan bisa bertahan hidup. Hasil jerih payahnya yang kelam dinikmati oleh semua orang di rumah. Tapi risikonya? Dia tanggung sendirian. Dipenjara, dihina, dipukuli, bahkan ada yang sampai dibakar hidup-hidup. Bagi mereka, anak dan keluarga tetaplah yang nomor satu, melebihi segalanya.
Dan ini yang lebih menyayat hati. Dalam “Kamus Breng-sex”, Ayah diartikan sebagai seseorang yang harus punya uang, tidak mau tahu dari mana asalnya. Nilainya kerap diukur dari angka di rekening, bukan dari air mata yang diam-diam ia keringkan. Tapi, betapa pun beratnya, Ayah tetap melangkah. Dia terus memikul langit agar tak runtuh menimpa kepala orang-orang yang dicintainya.
Child…
You don't know, you'd never known
How far they'd gone
If they must to see you live
Artikel Terkait
Oknum Polisi Diamankan Usai Tembak Remaja di Makassar
Pertamina Pastikan Kapal dan Kru di Timur Tengah Aman, Siapkan Antisipasi Pasokan
Harga Emas Pegadaian Anjlok Rp95.000 per Gram pada Rabu
Bone Siapkan Empat Bus Sekolah Ber-AC, Dikawal Satpol PP