Bayang-bayang Sawit: Ketika Hutan Berganti, Rakyat Tetap Terjepit

- Senin, 01 Desember 2025 | 05:20 WIB
Bayang-bayang Sawit: Ketika Hutan Berganti, Rakyat Tetap Terjepit

Jadi begini situasinya: hutan dihilangkan, tapi hasil dari penghilangan hutan itu tidak dinikmati rakyat. Hasil kebun yang ditanam di bekas hutan pun bukan untuk rakyat, karena kita tetap harus membeli minyak goreng dengan harga dua kali lipat lebih mahal daripada di Malaysia.

Mereka menanam di atas tanah yang dulunya milik rakyat, milik harimau, badak, gajah, dan satwa lainnya. Tapi ketika menjual minyak goreng ke rakyat, harganya dipaksa mendekati harga pasar internasional. Ironis sekali.

Dan sekarang, yang kena banjir ya rakyat juga.

Memang tidak bisa dipungkiri, sawit telah menopang ekonomi nasional dalam sepuluh tahun terakhir. Tapi harus ada keadilan. Perlu ada ganti rugi untuk pemulihan lingkungan. Misalnya, 30% dari hasil bersih kebun sawit seharusnya dialokasikan sebagai endowment fund untuk pemulihan lahan di masa depan.

Kita harus ingat, suatu saat nanti mungkin akan ditemukan tanaman lain yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Saat itu terjadi, harga minyak sawit bisa anjlok dan kiamat bagi perkebunan sawit pun tak terelakkan. Belum lagi dampak perubahan iklim yang semakin berat.

Jangan sampai kita bernasib seperti Nauru. Dulu mereka menghancurkan alam negaranya demi menambang fosfat. Uangnya dipakai foya-foya oleh segelintir orang. Begitu harga fosfat jatuh dan cadangannya habis, yang tersisa hanya penyesalan.

[Gambar ilustrasi hutan]

[Gambar terkait kebijakan sawit]

[Peta sebaran lahan sawit]

Oleh: Pega Aji Sitama


Halaman:

Komentar