Karena itulah, peran jurnalis Muslim jadi krusial. Mereka harus tampil sebagai penjernih informasi. Dakwah media bukan cuma soal nasihat spiritual, tapi juga penyelamatan akal sehat publik dari polusi opini.
Setelah ishoma, Ketua DDII Kota Bogor, Ustaz Abdul Khalim, menyampaikan sambutannya. Ia menekankan bahwa generasi muda pendakwah perlu dibekali lebih dari sekadar ilmu akhlak dan ibadah.
Sesi berikutnya diisi Anto Apriyanto. Materi public speaking ia awali dengan motivasi. Menurutnya, pengembangan diri adalah proses yang tak pernah berhenti.
Ia juga menyoroti tantangan di era disrupsi, di mana teknologi menggeser banyak peran manusia. Umat Islam, tegasnya, tak boleh cuma jadi penonton.
Ia pun menguraikan konsep Islamic public speaking. Berbicara dalam Islam bukan cuma soal retorika, tapi juga etika. Enam prinsip komunikasi dalam Al-Qur’an ia kupas: qoulan sadida (perkataan benar), qoulan ma’rufa (baik), qoulan karima (mulia), qoulan layyina (lembut), qoulan baligha (mengena), dan qoulan maisura (pantas).
Pelatihan ditutup dengan sesi praktik dan tanya jawab. Harapannya jelas: agar kegiatan ini bisa memperkuat tradisi literasi dan keteguhan dakwah di tengah segala tantangan zaman sekarang.
Artikel Terkait
Kunjungan Wapres Gibran ke Yahukimo Ditunda, Pangdam Ungkap Ancaman Keamanan
Dua Warga China Ditahan di Kalbar Usai Serang Anggota TNI di Lokasi Tambang
Habib Rizieq dan Massa Islam Desak Netflix Hapus Konten Pandji yang Disangkutkan dengan Salat
Menlu Sugiono: Diplomasi Indonesia Harus Berbasis Realisme di Tengah Dunia yang Abu-Abu